Setiap kali kita melakukan sesuatu di depan orang-orang, pasti ada impresi mereka terhadap apapun yang kita kerjakan, misalnya adalah presentasi. Sering sekali kita melakukan presentasi. Berdasarkan riset, hanya 50% orang dari audiens presentasi, yang benar-benar fokus memperhatikan materi. Sisanya, mungkin tidak benar-benar memaknai kegiatan presentasi (terkadang hanya sebagai formalitas). Ada pula, yang hanya hadir dalam presentasi tetapi tidak memperhatikan presentasi, karena distraksi lain. Sehingga, orang yang bisa disebut, memiliki impresi yang baik terhadap yang kita kerjakan, adalah yang tidak asal-asalan dalam memberi respon asumtif, dan benar-benar fokus awal hingga akhir supaya responnya ideal.
Respon yang diberikan, bisa jadi positif maupun negatif. Tetapi, itu tidak menentukan segalanya. Negatif bukan berarti suram, positif bukan berarti bahagia. Misalnya, memberikan kritik dengan cara yang lebih sopan dan dengan mood yang baik. Sama halnya dengan impresi yang positif, bisa dikatakan dan disampaikan dalam cara yang agak negatif. Kalau perspeksi kita tidak baik dan negatif, hal yang positif pun diabaikan dan tidak terlalu disyukuri. Misalnya, kita dipuji atas perkembangan kita sendiri selama satu semester berproyek, namun kita sendiri malah pesimis karena merasa tidak memenuhi ekspektasi kita yang sebenarnya, yang lebih tinggi daripada itu.
kalau kita diberi suatu kritik, yang maksudnya adalah mengkritisi ketidakmampuan kita dalam suatu proses, kita jangan me-nembal. Kita jangan cepat merasa kecewa. Kritik memang sangat bisa membuat kita merasa tidak nyaman, tetapi memang itu adalah kenyataan yang perlu dihadapi. Karena itu, kita bisa disadarkan atas kenyataan, dan kita bisa benar-benar menerima apa adanya. Jangankan selama ini kita melihat diri kita lebih baik daripada orang lain, kalau semua orang lain berkata seperti itu pula artinya tidak ada yang terbaik dong? Realita selalu berbeda dengan ekspektasi, itu sebabnya kita perlu mengetahui kritik dari sudut pandang orang lain. Meskipun tidak mudah menerimanya, dengan persepsi yang benar, kita bisa menganggapnya 'bukan beban'.
Komunikasi juga sangatlah penting dalam perihal kritik. Kalau kritiknya dilontarkan melalui chat, sudah pasti kesannya seperti kesal saja, apalahgi terkait kata-kata yang digunakan rada kritis. Itu berdasarkan pengalamanku sendiri, karena melalui chat ada yang memang maksudnya tidak terlalu kasar dalam menyampaikannya. Namun, seringkali apa yang diterima (kritik) itu dengan tegang, tidak mau jawab apa, dan juga merasa tidak mampu, dan ada penyadaran.
Coba saja persepsi yang kita terima tidak begitu. Kita jangan berasumsi, bahwa hal yang dihadapi sangat sangat critical sehingga kita malah overthinking. Tetapi, jangan juga lalai dan tidak menganggapnya serius. Miskomunikasi memang terjadi, tetapi kita bisa memahami apa yang orang lain maksud, dari pandangan mereka dengan bertanya, tanpa asumsi.