AES057: Melanggar batasan
haegenquinston
Thursday October 14 2021, 3:23 PM

Batasan adalah sesuatu yang menjadi sebuah ujung, terlihat maupun tidak terlihat. Batasan adalah, tempat keseimbangan bagi 2 belah pihak, dan tempat kita berhenti sebagai peran suatu pihak. Batasan bukan sesuatu yang perlu terlihat 'mengerikan', seperti kata-kata mitos. Namun, batasan perlu diajar dan diketahui secara tegas, agar kita bisa mengetahui keberadaannya saat sedang melakukan aktivitas ataupun sedag bersama orang lain. Kalau kita tidak mengenal batasan yang bisa kita berikan terhadap sesuatu (misalnya menuang minuman) maka akan berlebihan/kekurangan. Dengan seperti itu, maka kita akanĀ bablas dan akhirnya mengalami kerugian. Contohnya yg lain adalah jahil pada teman. Kalau kita jahilnya bukan apa-apa (garing), biarin lah. Tapi kalau sudah keterlaluan sampe kelihatannya nakal dan mem-bully, maka sudah berlebihan dan sudah melanggar batasan. Orang lain tentunya terkena dampak ruginya, yang bisa juga malah balik ke kita sendiri ruginya.

Melanggar batasan tidak seperti melanggar aturan, kalau ada konsekuensi paling kita lagi yang bertanggung jawab dan menanggungnya. Namun, hal ini juga bisa sangat berkaitan dengan karakter dan sikap etika kita. Kalau kita mengetahui batasan yang tidak bisa dilanggar, kita secara tidak langsung menghargai orang lain, karena mereka memiliki batasan mereka pula yang tidak bisa dilanggar. Untuk memberikan respek dan tidak membuat mereka sebel, tentu kita perlu mengenali batasan orang-orang. Misalnya, orang tidak mau menghabiskan waktu ngobrol terlalu lama, karena tidak nyaman. Sebagai diri kita yang mungkin senang dan ingin mengobrol, kita perlu tidak melanggar batas orang tersebut, supaya tidak merugikan dia. Meskipun kita mungkin menyayangkan kesempatan tersebut dan agak rugi, tapi mau gimana lagi. Karena itu adalah hak orang lain.

Aku mengalami sebuah situasi yang membingungkan tadi, hari ini. Seperti biasa, kegiatan KPB berjalan setiap harinya, kebetulan hari ini kegiatannya offline. Saat kegiatan offline, biasanya kegiatan berjalan jam 8-10 (dibatas 2 jam). Kali ini, jam 8-12, karena ada menonton presentasi serta proyek di siang harinya. Sesi pagi awal berjalan dengan lancar, hanya saja aku malah berasumsi bahwa Griya sudah buka, kami jalan kesana ternyata tutup. Sudah capek-capek, langsung nonton presentasi seorang kawan. Sehabis presentasi, ternyata waktu sudah jam 12 saat proyek. Aku mau pulang, karena memang sebenarnya sudah lepas dari waktu dan jadwal kegiatan. Namun, proyeknya belum selesai, aku pikir bisa dilanjutkan besok-besok. Secara batasan, aku merasa sudah melewati batas, karena memang sebenarnya sudah waktunya kegiatan berakhir. Faktor yang mendukungku berbicara seperti ini adalah, karena sudah capek saat jalan kaki ke Griya. Belum lagi sudah dijemput, ditungguin. Namun, di sisi lain proyeknya belum selesai, perlu menggoreng, kasian kalau temen aku ngerjain sendirian. Aku jadi bingung, mempertimbangkannya seperti apa. Pengennya mah, sebenarnya pulang aja langsung.

Akhirnya, saat itu aku memutuskan, untuk melanjutkan proyek dan 'bae lah' kalau memang waktu pulangnya batasnya terlambat. Diselesaikan dulu proyeknya. Untung saja keripik jadi di akhir tidak sia-sia.

Bagaimana menurut kalian? Kalau kalian menjadi aku, apa yang akan kalian pertimbangkan dan mengapa? Apakah batasan itu semua tidak dapat dilanggar? Atau bisa, dengan fleksibilitas?