Beberapa minggu lalu, Aku sedang mengisi kelas pengganti matematika. Karena festival literasi di hari kamis mengambil slot waktu olahan matematika pada biasanya, Aku bersama Kak Bayu memutuskan untuk memindahkan olahan matematika menjadi hari senin. Singkat cerita, Aku membeli sarapan di Bu Sum dan malah menemukan teman bermain riichi mahjong baru dari orang tua murid SD kecil.
Riichi mahjong adalah varian dari mahjong yang bermula di Jepang. Mahjong sendiri merupakan permainan yang bermula dari Tiongkok menggunakan “balok” bergambar. Jika dalam kartu remi ada 4 “kembang” dengan angka dari as sampai king, ada 3 “kembang” dalam satu set mahjong yaitu 萬子 (manzu, balok karakter hanzi), 筒子 (pinzu, balok “cimol”), dan 索子 (souzu, balok bambu), masing-masing memiliki angka 1 sampai 9. Ada pula 2 tipe balok tambahan yaitu balok “angin” (Timur, Selatan, Barat, Utara) dan balok “naga” (putih, hijau, merah). Masing-masing jenis balok memiliki 4 kopi. Cara bermainnya sendiri cukup mirip dengan permainan “ceki” atau “remi”, masing-masing pemain berusaha mengumpulkan pola kartu yang akan membawa kemenangan dengan mencangkul dari dek atau mengambil buangan orang lain, dan siapa yang bisa mengumpulkan pola kartu kemenangan paling awal menjadi pemenang ronde tersebut. Pola tertentu akan menghasilkan poin yang berbeda juga, tergantung kesulitan mengumpulkan pola tersebut. Tentunya pola yang sulit dicari akan menghasilkan poin paling besar.
Yang membedakan riichi mahjong dari varian mahjong lainnya ada 3, batasan 役 (yaku, pola kartu yang membawa kemenangan), 振聴 (furiten, aturan tidak tau diuntung), dan perhitungan skor han/fu
score=fu*2^(2+han)
Skor akhir akan dibulatkan ke atas dengan kelipatan 100 (jadi katakan perhitungan skor menghasilkan angka 960, maka skor akan dibulatkan ke 1000). Jika nilai han dan fu yang didapat melebihi 5 han 20 fu, maka skor akan dihitung berdasarkan kelipatan 2000. Baiknya skor ini dimasukkan ke tabel lalu jika ada yang menang bisa langsung melihat tabel han/fu untuk mendapatkan skornya
Terlihat rumit? Sebenarnya tidak serumit yang aku sampaikan di sini. Ini terlihat rumit karena aku dibatasi format ririungan yang hanya mengijinkan menampangkan satu essay. I promise you, jika kamu berminat dan belajar langkah permainannya sedikit demi sedikit kamu akan paling tidak bisa bermain dengan lancar. Untuk menjadi ahli, tentunya siapapun harus mendalami aturan permainannya, sama seperti catur, bridge, atau permainan apapun. Yang aku harus akui adalah, memang jika dilihat di permukaan, mahjong (terutama riichi mahjong) agak mengintimidasi pemain baru.
Jika aku ingin bertaruh, aku akan bertaruh bahwa hal yang menyebabkan riichi mahjong terlihat mengintimidasi adalah matematika. Riichi mahjong pada dasarnya adalah permainan pattern recognition, logika, dan statistics. Kamu harus berpikir cepat dan bisa menangkap pola apa yang akan muncul di tanganmu, ke mana pola itu akan mengarah, dan berapa kemungkinan pola tersebut akan datang. Cara berpikir tersebut merupakan dasar dari banyak olahan matematika. Bagian statistika cukup jelas, tetapi pattern recognition dan logika adalah dasar dari semua ilmu matematika, seperti aritmatika, aljabar, geometri, bahkan kalkulus. Bermain riichi mahjong pada dasarnya mengasah kemampuan-kemampuan dasar tersebut dan itu
Aku pernah menemukan selentingan di sosial media tentang mahjong. “Games were not supposed to involve math!”. Permainan tidak seharusnya melibatkan matematika. Tetapi jika kita melihat sejarah mahjong (dan riichi mahjong) dari dulu sampai sekarang, ini adalah permainan rakyat. Di Guangdong, orang bermain mahjong dengan santai di taman umum sambil mengobrol santai. Di Jepang, tidak sedikit ada klub riichi mahjong di SMA. Mereka bukan hanya melakukan ini tapi melakukan ini sebagai hiburan.
Itu pertanyaan yang masih tidak bisa kujawab. Matematika sebagai hiburan. Aku sendiri karena suka riichi mahjong bisa dibilang menggunakan matematika sebagai hiburan. Temanku di klub Riichi Bandung juga praktis menggunakan riichi sebagai hiburan. Temanku sejak SMA yang lulusan matematika UI dan seorang data scientist juga senang mengoleksi buku puzzle logika dan mengisi sudoku. Aku juga tahu paling tidak ada satu murid SMP yang suka mengisi sudoku di waktu luangnya. Mengapa ada orang yang bisa menggunakan matematika sebagai hiburan sementara mayoritas orang akan meringis ketika sayup-sayup mendengar kata "matematika"?
Entah lah, mungkin pertanyaan tersebut terlalu besar untuk kujawab seorang diri. Mungkin butuh otak tambahan untuk berpikir, mata tambahan untuk melihat, dan kuping tambahan untuk mendengarkan agar kita semua bisa menemukan jawabannya. Sementara ini, aku akan tetap bermain riichi. Tenang, awal aku bermain riichi aku juga mengalami kesulitan. Aku bukannya brojol langsung jadi jenius riichi. Bahkan nampaknya sekarang pun aku belum jadi jenius riichi. Tapi perjalanan mempelajari riichi yang aku masih tempuh sampai sekarang pun terasa menyenangkan. I implore you untuk paling tidak mencoba. Jika memang merasa tidak cocok, fair enough. Tidak semua orang memiliki minat yang sama. But just in the off chance that you fall in love with the game, it will be a very rewarding experience. Sekian dari saya, dan sampai jumpa di meja mahjong
(Gambar adalah foto dari sesi offline play beberapa minggu lalu. Itu adalah tangan terbaik yang pernah kumenangkan di offline play di klub Riichi Bandung. Menang berapa di tangan itu? Score calculation left to the reader as an exercise)