AES#024 Perlukah Melenyapkan Ego?
Murdeani
Monday October 13 2025, 9:07 AM
AES#024 Perlukah Melenyapkan Ego?

Kadang bagi pejalan spiritual ego dianggap sebagai musuh kesadaran yang harus dilenyapkan. Banyak dari kita yang meniti jalan kesadaran merasa bersalah dan berseteru dengan ego. Namun sebenarnya yang ingin melenyapkan ego... adalah ego itu sendiri. Akhirnya terjadi looping: semakin kita berupaya menjadi "tanpa ego", semakin kuat pula rasa "aku" yang ingin membuktikan keberhasilannya. Padahal, ego bukan lawan kesadaran, malah ia adalah bagian dari cara kesadaran belajar mengenali dirinya di dunia bentuk (fisik). Untuk hidup di dunia, kita memerlukan ego. Ego memberi kita identitas dan peran.

Tanpa ego, kita sulit berinteraksi dengan dunia, karena tidak ada batas diri, tidak ada arah, tidak ada kemampuan untuk buat keputusan praktis. Ia belajar melindungi, membedakan siapa teman, siapa lawan, apa yang aman, apa yang berbahaya. Ego memungkinkan kita makan, bekerja, mencinta, dan menjaga kehidupan sehari-hari. Nah, masalah muncul ketika kita melekat pada ego. Ketika identitas itu dianggap "aku sejati". Lalu kita terseret dalam gelombang rasa takit, marah, iri, kecewa, dan keinginan yang tanpa henti. "Dia merendahkan aku, aku tersinggung", "Dia pasti dapat harta gak halal, bisa mudah begitu, sedangkan aku mati-matian kerja masih gini-gini aja”, "Aku udah berbuat banyak tapi gak dihargai.” Di posisi ini, semua terasa nyata, kita larut dalam pengalaman itu, seolah itulah diri kita yang disakiti, yang merasa kurang dsb". Kita mulai percaya bahwa ego-lah yang mengatur hidup kita, padahal ego hanyalah gelombang di samudra kesadaran. Dia hanya di permukaan.

Jadi ego tak perlu ditaklukkan atau dilenyapkan. Biarkan ia tetap membantu kita hidup dan berfungsi di dunia, tapi kita tetap longgar dengannya, ga melekat. Kita bisa merasakan semua pengalaman manusiawi, tapi tetap berada di ruang yang menyaksikan dan menyadari semuanya. Ruang kesadaran. Samudra itu sendiri. Meski ombak di permukaan marah, tinggi, berputar-putar, dan penuh energi, di kedalaman tetap tenang, menampung semua gelombang. Begitu kita hadir di ruang itu, hidup terasa lebih ringan karena tak ada penolakan. Kita menerima semua pengalaman dan rasa tanpa terikat padanya. Rileks...

---

Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7925/aes025-sadar-napas

Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7917/aes023-hari-kesehatan-mental-sedunia

Andy Sutioso
@kak-andy   7 months ago
Betul banget. Problem utamanya memang kemelekatan dan identifikasi. Saya belajar banyak tentang ini dari bukunya Eckhart Tolle ,🙏🏼
You May Also Like