Pertemuan itu sudah direncanakan oleh Tuhan. Ya, bukan sebuah kebetulan. Tapi karena Tuhan sudah menggariskan pertemuan diri dengan berbagai hal yang ada di semesta.
Seperti hari ini, ada pembekalan Kakak di sekolah. Kesempatan Kakak-kakak bisa saling bertemu setelah sekian lama terpisah jarak dan ruang. Kembali menghidupkan keterhubungan satu sama lain. Satu hari di mana kami sama-sama menaruh hati, pikiran, dan tubuh untuk saling menerima serta memberi. Istilahnya, mengosongkan cangkir agar cangkir kita dapat kembali terisi.
Bicara tentang mengosongkan dan mengisi, topik kali ini tentang Literasi Diri. Rasanya asing dengan kata Literasi Diri ini. Yang selama ini diketahui literasi itu iqra yang artinya membaca semesta. Nah, setelah mengikuti pembekalan Literasi Diri hari ini ternyata bukan hal baru. Flash back ke waktu awal saya bergabung ke Semi Palar, diajak merefleksikan diri. Sejauh pengalaman saya bekerja dan melamar pekerjaan, baru di Semi Palar saya diajak untuk mengenali keunikan diri dan menuliskannya. Ya, di saat itu merasa sudah mengenali diri. File tersebut coba saya baca kembali. Ternyata benar, pada waktu itu yang dikenali hanya apa yang tampak dipermukaan. Baru sebatas apa yang saya suka, apa yang saya tidak suka, kekuatan, kelemahan, harapan-harapan saya, dan pengalaman-pengalaman keberhasilan atau kegagalan. Di momen pembekalan tadi, kembali memantik saya untuk lebih mengenali diri. Sadar akan diri, sadar akan lingkungan, sehingga sadar tujuan kita.
Kita tidak akan merubah apapun, jika kita tidak mulai merubah dari diri kita sendiri. Dunia pasti akan selalu mengalami perubahan. Sebuah siklus yang pasti akan kita alami. Tapi bagaimana kita bisa menghadapi perubahan? Menerima dan berdaptasi. Selanjutnya, bagaimana kita menemukan diri, mengenali diri, mengelola diri hingga diri kita bermanfaat untuk semesta? Bukan hal yang mudah namun sebenarnya sederhana. Banyak sekali caranya, yang tadi coba didiskusikan tentang jeda dan refleksi. Coba melihat kedalam diri - tubuh, pikiran, enerji, dan emosi. Keseimbangan dalam diri sangat penting agar pedarnya benderang. Mendapatkan keseimbangan tersebut yang saat ini terasa sangat sulit. Serba cepat, ingin multitasking, banyak peran dan tanggung jawab adalah beberapa alasannya. Tubuh sakit, kita tidak bisa melakukan apapun. Sedang rungsing, semua yang kita lakukan bisa jadi bukan selesai malah tambah kacau. Pemikiran-pemikiran serta kekhawatiran yg kerap muncul sering kali membuat apa yang kita sampaikan tidak terolah baik. Membagi-bagi energi agar bisa mengerjakan semuanya dengan baik, cepat, dan tuntas ternyata malah membuat jadi semakin sulit dan terbengkalai. Semuanya saling mempengaruhi. Dan yang kini semakin saya pahami, mengenali diri bukan artinya menjadi yang terbaik bagi orang lain, tapi menjadi yang terbaik versi diri kita sendiri agar kita bisa membagikan hal-hal baik untuk orang lain.
Waah, bagus amat tulisannya kak Novi. Suka bacanya. 😇
Nuhun, Kak Andy.. Semoga bisa konsisten nulisnya.. ☺️