I saw my life branching out before me like the green fig tree in the story. From the tip of every branch, like a fat purple fig, a wonderful future beckoned and winked. [...] I wanted each and every one of them, but choosing one meant losing all the rest, and, as I sat there, unable to decide, the figs began to wrinkle and go black, and, one by one, they plopped to the ground at my feet.
– Sylvia Plath, The Bell Jar
Aku sudah pernah menulis sebelumnya tentang metafora pohon ara Sylvia Plath. Sepertinya orang-orang sudah bosan membacanya tapi aku sungguh-sungguh menemukan diriku terus-menerus memikirkannya setiap diberi pertanyaan yang setitik saja eksistensial.
Yang membuatku paling takut bukanlah kemungkinan apa yang akan terjadi kalau, bukanlah buah-buah ara mengkilap dan mengundang dan tak termakan. Yang membuatku paling takut adalah, bagaimana kalau, buah ara yang kupilih ini adalah yang terburuk dari semua? Bagaimana kalau aku menggigitnya dan isinya kopong? Atau ada ulat bulu berbisa? Atau ada parasit yang akan memakanku perlahan dari dalam, bertahun-tahun, hingga suatu hari aku bangun tidur dan tertiup angin dan hancur, dan kepinganku terbang hilang entah ke mana, tersebar di seluruh kota?
Yang kutakuti tentang sunk cost fallacy adalah bahwa aku tidak tahu apakah aku terjebak di dalam sebuah sunk cost fallacy. Mudah sekali hidup dalam ilusi bahwa jalur yang kita pilih akan membawa kita ke harta karun. Selalu ada saja kemungkinan, sejuta ragam kemungkinan, bahwa jalan yang tak kunjung tampak indah akan berakhir indah. Apa bedanya dengan jalan yang memang berujung tragis?
Sepertinya sunk cost fallacy-ku adalah keyakinanku bahwa aku perlu membuktikan pada orang bahwa aku hebat. Jadi aku selalu membela diri kalau dibilang salah. Padahal seharusnya tidak perlu, itu malah akan membuatku terlihat makin salah. Tapi aku sudah terlalu lama seperti itu hingga menjadi rutinku, dan aku sulit keluar.
Aku butuh mentor bijak seperti dalam dongeng-dongeng. Yang punya pengalaman hidup dan bisa mengajariku cara hidup. Yang langsung melingkari dalam pena merah titik-titik hipokritku, yang bisa mengajariku untuk lebih rendah hati. Yang bisa mempereteli satu-satu buah-buah ara yang sudah busuk. Yang bersedia menebang pohon ara yang sudah tidak lagi berbuah untukku.
Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: “Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!” Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu.
– Matius 21:19