Babarengan adalah kata dalam Bahasa Sunda yang memiiki arti "kebersamaan". Sering sekali aku menggunakan kata itu, apalagi dalam konteks pertemanan, hubungan sesama manusia lainnya, khususnya, namun yang aku tau kata itu sering dipakai dalam konteks kolektif (banyak orang) "Hayu santai weh urang lakonan babarengan" (Ayo santai aja kita lakukan itu sama-sama), "Mending babarengan sangkan rame" (mending sama-sama biar seru). Kata itu sangat familiar di telingaku, bahkan mungkin sering aku ucapkan kepada teman-temanku, keluarga, maupun kenalanku. Namun kata itu di SMIPA, tidak hanya sekedar kata saja, lebih bermakna aku pikir.
Filosofi babarengan di SMIPA sangatlah amat elok aku pikir, mengapa demikian? kata ini menjadi aktivitas per enam bulan untuk menutup semester, dimana siswa, kakak dan orang tua, bercengkerama, merayakan kehangatan dengan senyuman, juga tak luput hidangan-hidangan yang siap untuk di makan agar membuat perut kita lebih nyaman (karena bersosialisasi dengan manusia membutuhkan energi). Aku baru tau kata Babarengan disini, menjadi kata yang begitu luas pemaknaannya.
Per hari ini aku merasakan pengalaman babarengan bersama kakak SD4 dan orang tua serta kawanan Tor-tor. Suasana pagi begitu hening seperti biasa, tampak kawanan Tor-tor dikoridor menuju tangga lantai dua sedang bermain dan telah memakai dress code hitam-hitam dan aksen Nusantara. Aku pun menyapa mereka, dengan begitu hangat mereka menyapaku kembali. Para orang tua dijadwalkan hadir pada pukul 08.20 WIB, dan sebelum para orang tua datang kami membuka kelas seperti biasanya. Waktunya pun tiba, aku dan Kak Asep memanggil para orang tua yang sudah bersiap di depan CO-OP, dengan nada canggung aku mengajak para orang tua kawanan Tor-tor untuk bisa merapat ke teater. Hari ini adalah jadwalnya babarengan SD Besar, dan mereka sudah siap melakukan penampilan-penampilan yang sudah disiapkan sebelumnya. SD 4 menampilkan dongeng, SD 5 battle pantun, serta SD 6 memainkan alat music recorder.
Dan semua penampilan dari SD Besar sungguh memukau aku pikir, kekhasan dari anak jenjang SD sangat nampak. Momentum yang begitu berharga pikirku, tepuk tangan yang bercampur rasa bangga, gelak tawa melihat kepolosan mereka, serta sepatah dua patah kata apresiasi ditujukan pada para penampil. Dan tiba saatnya untuk menuju pada sesi yang lebih intim, setelah penampilan di teater masing-masing kelas, menuju tempatnya masing-masing, SD 6 di Longpus, SD 5 di Pendopo, dan SD 4 di Teater. Aku sudah pasti berada pada lingkaran SD 4 (karena kelas tempatku magang), aku sangat merasa canggung, tetapi ketika games, syukur alhamdulillah aku bisa berbaur dengan para orang tua. Setelah games kami bergegas menuju gelaran karya di ruang kelas 8.
Makan-makan
Nah ini yang paling berkesan menurutku, masing-masing dari orang tua membawa hidangannya dari rumah, semua hidangan disimpan di meja yang telah diatur sebegitu rapihnya. Aku pun mengambil nasi liwet, batagor, dan masih banyak yang lainnya. Pokoknya terbaik, dari makanan saja aku bisa menafsirkan keberagaman para orang tua, rasa dan cara direpresentasikan melalui kuliner. Obrolan-obrolan antara orang tua pun terdengar, mereka duduk di posisi yang sangat nyaman begitu pun para siswa.
Kesanku
Bagi aku kegiatan ini, sangatlah menarik, mengapa begitu? karena aku pikir kebersamaan seperti ini sangat langka, khususnya dalam konteks pendidikan di Indonesia. Aku merasakan bahwa pendidik itu bukan hanya sekedar guru saja, tapi benar-benar semua, semua terlibat dalam hal mencerdaskan generasi penerus. Serta kesanku yang lainnya adalah, begitu terasa cinta dan kasih sayang yang mengalir disetiap aktivitas yang mereka lakukan, peluk hangat orang tua terhadap siswa, obrolan-obrolan ringan yang aku dengar dan banyak lagi. Sungguh momen yang membahagiakan, waktu pun mengalir dengan begitu cepat mungkin karena aku menikmatinya juga. Intinya hari ini berkesan saja. Awan pun nampak cerah tadi siang. Dan aku sangat bersyukur