Terucap selamat untuk para guru di hari ini.
Ah, saya jadi mengingat-ingat guru-guru saya di masa lampau, bukan hanya guru di sekolah, tapi juga guru-guru saya di bidang yang lainnya. Saya jadi ingin membuat sebuah ucapan terima kasih untuk mereka.
Bu Edah
Ibu guru ini adalah guru pertama yang saya temui ketika saya masih duduk di kelas 1 bangku sekolah dasar. Dia menyambut saya di hari pertama saya masuk sekolah dengan seragam merah putih. Saya ingat betul senyumannya dan rambut model bob sebahu dibelah pinggir. Ada beberapa helai rambut putih di sana. Bu Edah ini juga turut mengajar saya di kelas 6. Hal yang paling saya ingat, beliau akan memberikan gambar bendera di samping nilai, untuk 10 anak pertama yang berhasil mengumpulkan dan menjawab semua soal latihan. Semua anak berlomba untuk mendapatkan bendera tersebut, sehingga semua selalu giat belajar dan menjadi yang tercepat.
Kak Ucup dan Bang Edwin
Pelatih hoki saya saat SMA dan Kuliah. Saya ingat waktu Kak Ucup ngelatih fisik hujan-hujan di lapangan basket sekolah. Saat itu saya mikir, kok, ikutan ekstrakulikuler gini-gini banget ya. Pokoknya latihan fisik gak akan selesai kalo muka belom merah, nafas belum setengah. Main hoki dari SMA mengantar saya masuk ke Unpad. Di sana saya ketemu lagi sama pelatih namanya Bang Edwin. Kalau sama Bang Edwin, dilatihnya skill sama mental. Siapa sangka berkat mereka berdua saya bisa jadi atlet :')
Pak Dandi, Pak Sahala, Bu Nonon, Bu Titin, Pak Dadang.
Sebagian dosen saya, saat kuliah S1 di Jurnalistik Unpad, yang cukup berkesan. Pak Sahala yang selalu disiplin dan EYD garis keras, yang bikin saya kalau mau nulis dan ngomong selalu dipikir 5 kali. Pak Dandi dosen pembimbing saya yang mengantar saya belajar banyak tentang jurnalistik masa kini, beliau juga kerap menjadi pemberi referensi saya saat pertama kali meniti karier. Bu Nonon, dosen yang percaya kepada saya untuk memegang kelas beliau saat ia sedang ada kepentingan (bukan kepada anak-anak pintar yang IP-nya selalu tinggi :') ). Bu Titin dan Pak Dadang, duet maut yang selalu memastikan saya bisa kuliah dengan baik dan benar.
Bu Marem, Bu Wiwit, dan Bu Muryati
Tiga guru ini menurut saya keren banget. Mereka adalah guru-guru yang saya kenal ketika saya mengajar di pelosok Tulang Bawang Barat. Bu Marem dan kakaknya menggagas untuk membuat sekolah di sebuah desa tanpa listrik. Dimulai dengan sepetak tanah yang dibangun rangka bambu menyerupai bangunan dengan atap jerami. Sekolah sangat sederhana tersebut lama-kelamaan berdinding batu bata beratapkan seng. Kabar terakhir sudah menjadi sekolah negeri. Saya selalu terharu mendengar ceritanya, mereka sebisa mungkin membangun sarana agar anak-anak pelosok pun bisa mendapatkan pembelajaran. Bu Muryati bergabung bersama Bu Marem, menjadi guru jenjang kecil yang kelasnya disekat oleh selembar tripleks. Mengajarkan anak-anak mengenal huruf dan angka dengan perangkat ajar sederhana. Sementara Bu Wiwit adalah yang paling muda, karena paling muda ia pun membawa semangat kekinian dan kebaharuan. Saya cukup mengapresiasi keinginan Bu Wiwit untuk bisa belajar menggunakan laptop demi bisa mengikuti tes Pegawai Negeri Sipil. Banyak hal yang saya pelajari dari mereka, bukan hanya saya tapi seluruh anak-anak di Desa Indraloka, Kecamatan Way Kenanga, Kabupaten Tulang Bawang Barat.
Mba Romi dan Mba Iin
Dosen penguji dan dosen pembimbing saya saat kuliah S2 di Psikologi UI. Kalau mereka gak ngomelin saya, kalau mereka gak menekan saya, kalau mereka gak kasih saya pelajaran dengan lulus bersyarat, mungkin saya enggak akan berhasil lulus kuliah. Jatuh bangun rasanya, tapi mereka cukup mengajarkan saya banyak hal.
Kak Rika dan Bang Docae
Sejoli ini yang mengajarkan saya banyak hal tentang mountaineering, mengingat saya tidak pernah bergabung dengan kelompok pecinta alam semasa sekolah atau SMA. Dari mereka saya jadi tahu bahwa mendaki bukan hanya sekedar hepi-hepi, Persiapan yang matang akan membuat kita mampu melakukan pendakian yang nyaman dan aman. Perempuan harus bisa mandiri dalam segala situasi, terutama ketika sedang mendaki. Bersama mereka saya mendaki beberapa gunung yang menantang seperti Kerinci dan Argopuro.
Bli Darta
Orang asli Bali yang dulunya bekerja sebagai sekuriti. Kesempatan mengantarkan ia menjadi penyelam bersertifikat. Ia cukup berjasa mengajarkan saya teknik-teknik menyelam hingga mendapatkan sertifikasi. Tanpa jasa Bli Darta, saya mungkin tidak akan tahu kehidupan 30 meter di bawah permukaan laut dan ketemu hiu
Tanpa mereka saya mungkin tidak menjadi saya yang seperti sekarang ini. Cukup berjasa namun tanpa tanda. Mungkin tulisan ini akan membantu saya untuk mengingat, menjadi sebuah tanda.
Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain, seberguna-gunanya ilmu adalah yang dibagikan kepada orang lain. Terima kasih, jasa kalian abadi.
Gambar:
Terima kasih atas esai ini, Kak Melissa. Saya jadi terinspirasi untuk membuat tulisan serupa dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional ini. 🙏
Sama-sama Pa Ahkam.. Selamat mengingat-ingat sang pahlawan tanpa tanda jasa. Sejujurna memang ada beberapa nama guru yang akhirnya saya benar-benar tidak bisa ingat, hanya mendapat jasanya sanya.