AES018 Merawat
yulitjahyadi
Saturday September 11 2021, 10:00 PM
AES018 Merawat

Sebuah rumah mungil dengan gaya arsitektur minimalis berwarna putih, abu dan sentuhan kayu warna coklat muda, terpampang di sebuah tayangan reels.

Sudah lama aku tak begitu memperhatikan  warna-warni dunia arsitektur, dan tayangan rumah baru itu tadi terasa begitu menarik. Bukan soal desainnya tapi perasaan yang muncul melihat rumah barunya. Aku jadi teringat pada perasaan bahagia ketika masuk di rumah baru. Bau cat yang masih kuat, lantai yang mengilat, dinding yang bersih begitu pula perabotannya, semua licin tak berdebu.

Mungkin karena perasaan itulah aku jadi terdorong untuk membersihkan rumah. Lantai, dinding, kaca, pintu, jendela, perabotan sampai saklar dan stop kontak pun dibersihkan dari debu yang menempel. Sembari bekerja aku tiba-tiba teringat akan satu kata yaitu merawat, dan karena kata itu pikiranku pun ikut sibuk merancang sebuah esai. 

Membersihkan rumah adalah satu bentuk perawatan agar rumah tetap nyaman didiami, terutama kebersihan di dalam rumahnya. Ada rasa senang ketika melihat rumah yang kembali bersih dari debu menempel. Barang-barang yang tertata rapi pada tempatnya juga turut membuat rumah serasa baru lagi 

Tubuh manusia juga sama saja dengan rumah, tubuh adalah rumah bagi jiwa yang tinggal di dalamnya. Tubuh yang terawat baik pastinya juga akan memberi rasa nyaman bagi pemiliknya. 

Merawat ini seperti sebuah pekerjaan sederhana tapi tidak mudah. Aku punya rasa gemas tersendiri terutama pada dinas pemerintah yang mengurusi pertamanan. Aku cukup sering melihat pembuatan taman baru, penanaman tanaman baru, tapi hampir tidak pernah melihat perawatan taman atau tanamannya. Usaha itu baru ada ketika taman dan tanamannya sudah cukup awut-awutan atau botak sana sini. Mungkin bagi dinas pertamanan seperti itulah perawatan, yaitu mengganti yang lama dengan yang baru.

Tentunya bukan seperti itu cara merawat rumah apalagi tubuh. Dinding yang kotor tidak serta merta dicat baru lagi, atau perabotan yang dekil tidak juga serta merta diganti dengan yang baru, meskipun sebenarnya itu bisa jadi sah-sah saja jika ada uangnya. Tapi bagi tubuh tidak berlaku seperti itu, karena tubuh adalah rumah satu-satunya bagi jiwa yang mendiaminya. Tidak ada tubuh cadangan yang bisa dibeli untuk menggantikan tubuh lama. Meskipun ada yang namanya transplantasi, tapi tidak ada orang yang ingin melakukannya.

Merawat tubuh lalu jadi esensial. Rumah satu-satunya ini lantas tak mungkin dijejali barang hingga penuh tak bersisa ruang lagi. Atau dibiarkan begitu saja tak terawat seperti rumah yang tak berpenghuni. Tubuh pun perlu declutter, perlu sesekali dikosongkan, dirapikan, dibersihkan dan ditata, agar tentram dan bahagia jiwa yang berdiam di dalamnya.