"Whoever said money can’t buy happiness isn’t spending it right.” Kalimat ini diucapkan oleh Gertrude Stein, seorang novelist dan pujangga Amerika. Saya tidak pernah membaca tulisannya, hanya saja saya ingat dulu, entah tahun berapa ada iklan kendaraan Lexus yang menggunakan kalimat ini untuk merayu masyarakat agar membeli mobil mahal ini tanpa rasa bersalah karena telah dengan "bijak" membelanjakan uangnya demi kebahagiaan.
Apakah kebahagian sesungguhnya bisa dibeli? Nah ini sebuah pertanyaan seru yang ingin saya obrolkan hari ini. Mudah-mudahan tidak ngawur dan saya juga dapat belajar sedikit dari ide berpikir aneh saya hari ini.
Kata pegiat ilmu, diskusi tentang kebahagiaan itu dimulai dengan pemikiran sederhana: Yaitu bahwa manusia tidak pernah puas. Catherine Sanderson, seorang profesor psikologi di universitas Amherst mengatakan bahwa kita selalu berpikir seandainya kita memiliki uang lebih banyak, maka kita akan lebih bahagia. Kenyataannya tidak demikian. Ketika kita akhirnya memiliki uang lebih, tetap saja kebahagiaan belum tercapai. Semakin banyak kita memiliki uang, usaha kita dalam mencapai kebahagiaan semakin tidak efektif. Jadi ini seperti sebuah paradox. Seorang profesor dari Harvard, Dan Gilbert juga berpendapat sama, yaitu ketika seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar, meskipun lebih banyak uang yang kita miliki, tetap tidak menjadikan kita lebih bahagia!
Di masa saya masih menjadi mahasiswa miskin dan tinggal menumpang dirumah seorang kenalan, saya berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh penghasilan, tujuannya sederhana, saya ingin mampu membayar uang kost sendiri sehingga tidak lagi menumpang. Tidak nyaman menumpang pada seseorang. Akhirnya saya memang mampu kost, tapi apakah saya merasa lebih nyaman? Mungkin sedikit, tapi tetap tidak memenuhi keinginan saya 100% sebab saya masih harus tinggal dengan 7 orang lain mengontrak sebuah rumah bersama-sama. Tidak ada privasi dan saya sulit belajar sebab mereka sangat berisik, senang memutar lagu-lagu keras-keras, dan jenis musik mereka tidak sama dengan kegemaran saya. Standar kebutuhan saya berubah, dari ingin merasa nyaman tidak menumpang, sekarang jadi ingin tempat tinggal yang lebih nyaman, ditambah adanya keinginan-keinginan serta standar kenyamanan lain.
Itu satu hal, yaitu manusia tidak pernah puas. Lalu berikutnya apa? Ini pertanyaan sangat mendasar. Kebahagiaan itu apa? Dan apa yang membuat kita bahagia! Nah silakan jawab. Sebab menurut saya ini adalah kunci dalam menjawab pertanyaan yang sangat fundamental, tanpa tahu itu, maka apapun yang kita lakukan tidak akan pernah membuat kita bahagia.
"Wanting gives you more satisfaction than having." Kata Nina waktu saya menanyakan pendapatnya tentang kebahagiaan. Mungkin dia tidak mau menjelaskan secara teoritis pada saya. Pada intinya ketika kita menginginkan sesuatu, rasa nikmatnya terasa lebih intens daripada ketika kita memilikinya. Kita berangan-angan memiliki sesuatu, misalnya sepeda yang high end, atau apalah. Dari awal kita melakukan riset, dimana tempat yang paling affordable, warna apa yang kita inginkan, asesori apa yang akan kita beli dan lain sebagainya. Berlama-lama kita menginginkan itu, menabung, meletakkan gambarnya di depan komputer di kantor, membicarakannya dan lain sebagainya. Hidup seolah-olah difokuskan untuk mencapai keinginan kita. Lalu ketika kita memilikinya, untuk sesaat kita sangat senang, menggunakannya kemana-mana, beli micin juga pakai sepeda itu, bahkan ke kantor! Tidak peduli jaraknya 14 km, misalnya. Lalu semuanya pudar, kegembiraan menjadi biasa saja, dan kita menginginkan yang lain lagi. Kata Anthony de Mello, kita mengejar kesia-siaan. Kenapa begitu? Karena kita tidak tahu apa yang sebetulnya membuat kita bahagia, atau bahkan kita tidak tahu apa itu kebahagiaan. Kita mengejar sesuatu yang kosong. Itu mungkin yang Nina katakan barusan, wanting is more satisfying than having! Tidak tahu dia memperoleh kata-kata itu dari mana, tapi saya sering mengalami ini dan setuju sekali.
Kita terlalu sibuk secara membabi buta mengejar kebahagiaan. Rata-rata orang berusaha dengan mencari uang sebanyak-banyaknya. Uang memang memudahkan kita untuk melakukan banyak hal. Jalan-jalan ke seluruh dunia memerlukan uang, mudah-mudahan dengan melakukan itu kita dapat mendapat kebahagiaan. Betul begitu? Sekarang sesudah saya hidup puluhan tahun, saya agak sangsi. Saya merantau selama 18 tahun, mendatangi mungkin setengah atau lebih dari states yang ada di Amerika. Memang saya senang jalan-jalan dan mencoba makanan baru, apakah dengan itu saya bahagia. Saya senang, mungkin bahagia sesaat tapi semua ada akhirnya, sesudah perjalanan usai saya harus kembali ke keseharian saya dan hidup mengalir lagi seperti sedia kala. Jalan-jalan hanya meciptakan distraksi sementara, hanya memberikan kesempatan untuk berjarak dengan rutinitas dan kebosanan. Tidak ada kebahagiaan sejati di sana. Yang harus kita cari adalah kebahagiaan yang ada di dalam diri melalui hal-hal yang biasa, mungkin malah yang sederhana.
Seringkali kita overestimate tetang kenikmatan jika memiliki lebih. Saya sudah membuktikan bahwa itu benar. Manusia itu sangat hebat dalam beradaptasi. Kita akan senang sejenak ketika memperoleh lebih lalu kita beradaptasi, yang lebih itu menjadi biasa saja lalu kita ingin lebih banyak lagi. Kalau kita memikirkan dengan sungguh-sungguh sejak jaman purba ketika manusia masih harus menciptakan api dengan batu, atau menggosok-gosokan kayu kering, hingga jaman modern sekarang, seharusnya kita sudah sangat bahagia hidup di jaman ini, bukan? Jaman saya kecil untuk mandi harus turun ke sumur, menimba mengisi air ke ember lalu menggotongnya ke kamar mandi, sekarang saya hanya tinggal memutar keran dan air mengalir dengan deras. Saya pernah harus memasak air untuk membuat kopi dengan panci yang mehong karena menggunakan kayu bakar, saya harus meniup api dengan bambu agar kayu bakar menyala sambil sideang. Kadang harus terbatuk-batuk karena asap dan karena salah cara meniupkan udara melalui bambunya sehingga asap dan debu menghambur ke wajah, nah harusnya saya bahagia sekarang karena air panas akan keluar dengan hanya menekan sebuah tombol dan saya bisa membuat kopi dalam ukuran detik. Apakah kita semua bahagia? Ini pertanyaan yang sangat dalam dan penuh makna! Kebahagiaan tidak bisa dibeli. Uang tidak dapat ditukar dengan kebahagiaan. Mungkin kita harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh Socrates:
"The secret of happiness, you see, is not found in seeking more, but in developing the capacity to enjoy less."
Foto credit: 1000wordphilosophy.com