Terima/ambil banyak, hilang banyak, masih banyak. Mungkin ini yang secara tidak sadar dilakukan diri sendiri. Seperti perpisahan yang ditutup dengan narasi sudah mendapat banyak, yang menjadi format standar perkataan. Ah ini membosankan.
Apakah kalau sudah mendapat banyak kemudian buntu, jalan keluarnya adalah keluar? Pergi meninggalkan kebuntuan, dengan pandangan bahwa jalan buntu karena tempatnya begitu-begitu saja. Abai pada perspektif seberangnya;
Yang melihat bahwa tempat yang baik memang perlu begitu-begitu saja, agar yang menempatinya yang berkembang. Kalau tempatnya yang berkembang, yang menempatinya yang begitu-begitu saja. Jadi memang perlu milih tempat dong?
Enggak, kan bukan isi yang memilih ruangnya. Justru ruang lah yang memilih isinya, bukan orang yang memilih tempatnya justru tempat yang memilih orangnya. Berdasarkan kebuntuan orang yang akan menempati/mengisinya.
Coba ingat apa narasi yang dikatakan dahulu, ketika meninggalkan tempat lama sebelum masuk ke tempat sekarang ini. Apakah karena telah banyak mendapatkan maka pergi? Ataukah karena telah banyak memberi, setelah itu baru pergi?
Tidak perlu yang dibuktikan, yang dikatakan saja. Kalau yang dikatakan sudah banyak mendapatkan, terlepas dari basa-basi atau asli, maka ruang yang memanggil kemudian adalah ruang yang berkembang dan isinya stagnan.
Kalau yang dikatakan sudah banyak memberikan, maka ruang yang memanggil kemudian adalah ruang yang stagnan dan isinya/orangnya yang berkembang. Memang perlu banyak-banyak menerima, kemudian membiarkan hilang banyak;
Karena jadi banyak yang kelihatan, mana yang seperti orang kebanyakan, mana yang kebanyakan seperti orang. Mana yang membuntukan dirinya sendiri, mana yang membuntukan tempatnya sendiri. The way we do one thing is the way we do everything.