AES#023 Hari Kesehatan Mental Sedunia
Murdeani
Friday October 10 2025, 5:50 PM
AES#023 Hari Kesehatan Mental Sedunia

Tanggal 10 Oktober diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Jadi hari ini aku ingin menulis soal kesehatan mental dilihat dari sudut pandang kesadaran. Dalam pandangan umum, kesehatan mental sering dipahami sebagai keseimbangan fungsi psikologis: pikiran yang teratur, emosi yang stabil, mampu mengelola stres, relasi yang sehat dsb. Pendekatan ini berbicara pada ranah lapisan manusia yang berfungsi dalam dunia, seperti otak, sistem saraf, dan interaksi sosial. Namun, dari sudut pandang kesadaran, kesehatan mental tidak berhenti di “bagaimana pikiran bekerja”, tetapi menyentuh “siapa yang menyadari pikiran itu”.

Dalam pandangan psikologi, kesadaran sering dilihat sebagai fungsi dari pikiran atau otak, ia dianggap sebagai produk sistem pikiran-biologis, namun ada juga pandangan psikologi transpersonal yang melihatnya lebih luas, bukan hanya sebagai fungsi otak tapi sebagai inti pengalaman manusia. Di sini, kesadaran dilihat sebagai ruang tempat pikiran, emosi, dan tubuh muncul. Bukan bagian dari pikiran, tapi wadah bagi pikiran itu sendiri. Sekilas mirip seperti perspektif kesadaran murni.

Dari sudut pandang kesadaran murni (nondual awareness), kesadaran tidak dianggap hasil dari otak, melainkan realitas dasar yang memungkinkan semua pengalaman terjadi. Dari pov ini, pikiran justru adalah ombak yang muncul di dalam lautan kesadaran, lautan bukan bagian dari ombak. Kesadaran bukan bagian dari pikiran, pikiran lah yang muncul di dalam kesadaran.

Lalu apa bedanya pandangan psikologi transpersonal dengan kesadaran murni? Letak perbedaanya snagat halus, yakni di psikologi transpersonal masih subyek yang menyadari kesadaran itu sendiri, masih ada konsep “aku” meskipun “aku” yang lebih luas, yang terhubung dengan sesuatu yang lebih besar. Fokusnya pun masih pertumbuhan, evolusi kesadaran manusia. Bagaimana manusia bisa melampaui ego, menyembuhkan luka batin dsb. Kesadaran murni melampaui konsep pertumbuhan dan subyek-obyek. Tidak ada lagi “aku” yang menyadari, yang ada hanyalah kesadaran yang mengetahui dirinya sendiri. Fokusnya bukan lagi mengembangkan kesadaran, melainkan sudah utuh sejak awal. Bisa dikatakan, psikologi transpersonal masih bisa berbicara tentang “jalan menuju”, sedangkan nondual awareness berbicara dari “tempat yang sudah tiba”. Guruku bilang, “sudah di garis finish sejak awal”.

Kesehatan mental dilihat dari sudut pandang kesadaran murni berarti akar gangguan bukan sekedar di pikiran tetapi di identifikasi, sehinggaa penyembuhan dimulai bukan dengan melawan pikiran, tapi dengan melihatnya dari ruang yang lebih luas. Kesadaran sendiri tidak bisa stres, tidak bisa cemas, atau depresi. Ia afalah ruang yang menyadari stres, kecemasan, dan depresi itu.

Dalam pendekatan berbasis kesadaran, seseorang tidak berusaha “menyembuhkan” diri dalam artian memperbaiki isi pikirannya, melainkan menemukan tempat di dalam diri yang tidak rusak sejak awal. Kemarahan, keaedihan, cemas dan semua bentuk emosi tidak dianggap musuh, melainkan hanyalah gerak energi di permukaan kesadaran. Dari ruang sadar, kita bisa mengizinkan energi itu lewat melalui penerimaan, bukan penolakan, pemendaman, bukan juga dipakai sebagai identitas (misal: aku pemarah, aku orang yang cemas, aku bipolar). Ketika energi dibiarkan mengalir, ia membersihkan dirinya sendiri. Kesehatan mental pun menjadi bukan hasil dari “mengatur”, tapi “mengizinkan”. Dari sini, kesehatan mental bukan sekedar “bagaimana aku bisa merasa lebih baik”, tapi bergeser menjadi “bagaimana aku bisa hadir penuh dalam setiap rasa, bahkan yang tidak nyaman”. Dan di situlah, mungkin, letak kesehatan mental yang paling dalam. 🤍

---

Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7919/aes024-perlukah-melenyapkan-ego

Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7848/aes022-waktu-hening