Di Smipa, ada kebiasaan waktu hening di awal kegiatan. Tak hanya untuk anak-anak, tapi juga dalam kegiatan orang tua biasanya diawali oleh waktu hening. Sebenarnya, untuk apa hening? Apakah untuk menenangkan pikiran dan ritme sebelumnya sehingga kita bisa lebih fokus dalam berkegiatan? Iya tapi sebenarnya nggak hanya itu menurutku.
Hening itu apa sih sebenarnya? Banyak dari kita mengira hening adalah kondisi ketika pikiran lenyap, sunyi sama sekali tak ada pikiran yang melintas. Seakan-akan pikiran adalah monster yang harus dibereskan dulu sebelum hening bisa datang. Namun apakah pikiran benar- benar bisa kita hentikan? Begitu kita mencoba untuk berhenti berpikir atau menghentikan pikiran, itu sendiri sudah pikiran baru. Usaha kita menghentikan pikiran juga bisa bikin kita tegang, ada effort di situ. Jadi kita tidak bisa menghentikan pikiran dengan kemauan.
Hening itu sendiri bukan berarti selalu kondisi tanpa pikiran. Pikiran bisa saja tetap bergerak, namun kualitas inner kita hening. Karena pikiran adalah ekspresi atau gerak dari kesadaran itu sendiri, yang mengambil bentuk kata, visual, atau sensasi batin. Kita bisa tahu pikiran kita karena terasa seperti ada suara di dalam, atau visual yang muncul. Coba sadari pikiran kita sekarang, saat ini. Nah, coba perhatikan, di antara pikiran, ada jeda di antaranya. Sama seperti jeda antara tarikan dan hembusan nafas kita. Coba sadari sekarang. Jeda ini adalah ruang sunyi kecil. Kebanyakan kita tidak menyadari ini, karena pikiran datang begitu cepat seperti hujan deras. Jeda ini adalah kilasan dari ruang hening yang selalu ada, di mana pikiran datang dan pergi. Seperti kita sadar bahwa ternyata dalam ruangan yang penuh sesak itu ada celah yang ternyata adalah ruang yang menampung semua benda- benda di dalamnya.
Hening itu adalah latar atau ruang kesadaran yang selalu ada. Seperti langit biru yang kadang ada awan bergumpal-gumpal, kadang awan halus, kadang awan badai, tidak mengubah keberadaan dan kualitas langitnya. Awan datang dan pergi, namun langit selalu ada. Jadi hening itu selalu ada di balik semua pikiran. Pikiran seperti awan, dan kita nggak bisa menghentikan awan. Tapi kita bisa berdiri sebagai langit, dan awan itu akan lewat dengan sendirinya. Di sini, pointnya adalah tidak teridentifikasi atau tidak melekat dengan pikiran. Kita adalah langit, bukan awan pikiran. Kita tidak menolak pikiran, tidak berusaha menghentikan pikiran. Kita sadar ada pikiran muncul, dan hanya membiarkannya lewat. Tidak juga terseret pada pikiran tersebut. Kadang ada pikiran yang menakutkan, menyedihkan, membingungkan, kita terima hadirnya, kita biarkan saja. Mereka akan kembali larut ke ruang kesadaran, asal dari mana mereka muncul. Jadi hening itu bukan ketiadaan, melainkan kehadiran utuh. Biasanya yang kemudian akan terjadi malah pikiran menjadi lebih jarang, lebih tenang, lebih ringan, tanpa upaya keras dari kita.
Karena hening adalah ruang kesadaran yang selalu ada di balik apapun yang kita lakukan, maka kualitas hening yang sama saat waktu hening atau meditasi, bisa kita rasakan juga di waktu-waktu lain. Dan sesungguhnya itulah kegunaan waktu hening atau meditasi yang kita lakukan. Bukan hanya meninggalkan keheningan di tempat kita duduk hening tadi. Meskipun kita menyebutnya waktu hening, kita tidak perlu memisahkan antara waktu hening dengan waktu bekerja, belajar, bermain, berolahraga dll. Latihan yang sebenarnya adalah membawa hening itu bersama kita dalam keseharian. Saat kita makan, kita menikmati setiap kunyahan tanpa buru-buru. Ketika anak rewel dan nangis, kita memahami kefrustrasiannya dan nggak buru-buru menyuruhnya diam, jika emosi kita ketrigger oleh situasi tersebut alih-alih menyalahkan diri sendiri atau bereaksi, kita memilih untuk mengakui dan merasakan sensasi emosi di tubuh dulu sebelum meresponnya. Hening itu bukan berarti selalu sempurna tanpa cela. Bukan berarti tidak ada pikiran dan emosi sama sekali. Tapi selalu kembali saat kita lupa. Pelan-pelan, hening itu bukan lagi sesuatu yang kita “datangi”, tapi teman yang berjalan bersama. Ia bisa hadir dalam kesibukan, bahkan dalam keramaian. Karena ruang kesadaran itu selalu ada, bukan hanya ada ketika kita duduk di waktu hening. Dan hening itu adalah buah dari kesadaran yang jernih.
---
Post berikutnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7917/aes023-hari-kesehatan-mental-sedunia
Post sebelumnya: https://ririungan.semipalar.sch.id/murdeani/blog/7840/aes021-menemukan-bintangku-catatan-dari-selametan-tp-21