AES 138 Halangan
leoamurist
Tuesday October 12 2021, 12:00 PM
AES 138 Halangan

“Yang terhalangi akan menghalangi, yang menghalangi akan dihalangi.” Membaca kalimat barusan sambil mengingat ulang pengalaman menembus kemacetan, yang diakibatkan oleh kendaraan yang berhenti sembarangan; seperti itulah emosi yang hendak disampaikan melalui perkataan barusan.

Jadi yang penting emosinya/isinya/pesannya, coba rasain lagi emosinya. Nah, itu inti pesan dari kalimat. Bukan tata kalimatnya, bukan pemilihan katanya, bukan rimanya, bukan juga panjang pendek kalimatnya. Kalimat itu adalah wadahnya, bukan isinya.

Memang sih, wadah lebih penting daripada isi. Karena tanpa wadah tidak akan ada isi, karena tidak ada batasan sehingga semua keberadaan adalah ketiadaan. Itu mungkin maksudnya ‘kosong adalah isi dan isi adalah kosong’ yang perlu diucapkan sepaket, gak boleh dipotong.

Setidak boleh memotong lajur lain di jalan umum, karena akan menghalangi gerakan orang lain. Bukankah itu termasuk korupsi. Ragu-ragu kiri atau kanan, si pengendara malah berhenti di tengah jalan. Macet ke belakang. Coba rasakan lagi emosinya, sambil baca kalimat paling pertama tulisan ini.

Sip! Kalau udah kenal emosi yang hendak disampaikan ini, coba sekarang lihat teman/rekan sebelah kita. Semua perlambatan yang terjadi oleh karena tindakan dia, intinya ada di emosi serupa yang kita rasakan. Apapun penjelasan, apapun alasan, apapun analisanya, apapun apapun, yang kerasa ya yang terasa kan.

Lalu sekarang bercermin lah dan katakan pada dia yang ada di dalam cermin, “yang terhalangi akan menghalangi, yang menghalangi akan dihalangi.” Lalu baca kata berikut ini dengan pelan, berbisik. Baca dengan keras berisik juga boleh aja sih.

Karma.

Beda lho karma dengan hukuman. Karma itu paketan, sepaket tindakan dari awal sampai akhir. Bukan celetukan melepas emosi saat tidak mampu melihat suatu rangkaian fenomena secara utuh. Karma bisa jadi adalah struktur, yang perlu dimasuki kalau mau melampaui kesadaran.

Bukankah kita hanya bisa memberikan apa yang telah diberikan kepada kita. Apa yang diberikan kalau tidak ada yang diterimakan terlebih dahulu. Bukankah kita hanya mampu melakukan yang kita ketahui saja. Kalau begitu kenapa masih terjebak di pengulangan, kalau sudah luas pengetahuan.

Membebaskan diri bisa jadi adalah, tidak meng-halangi walaupun kita ter-halangi sehingga kita tidak di-halangi.

You May Also Like