Di rumah, kebetulan kami mencoba teknis mengompos baru, yakni komposter anaerob, proses pengomposan dengan cara tertutup. Karena sebelumnya kami mengompos hanya dikubur saja dilahan kosong samping rumah yang kebetulan saat ini sudah berdiri sebuah bangunan. Ember bekas cat yang diminta dari tentangga lah yang kami manfaatkan untuk komposter tersebut. Berangkat dari beberapa postingan Mbak Dk. Wardhani, saya coba belajar satu persatu tahapan yang perlu diperhatikan dan dilakukan untuk mulai melakukan pengomposan.
Kurang lebih enam bulanan berjalan, tentu tidak mudah untuk menggulirkan sebuah gerakan dalam lingkup komunitas terkecil, yakni keluarga. Perlu bergerak bersama dan menyamakan pemahaman tentang pentingnya melakukan tersebut. Dari sisi pemahaman sudah centang, tinggal bagaimana menjadi sebuah kebiasaan yang terus dijaga konsistensinya. Ya meskipun, teknisnya di rumah masih bagi-bagi tugas. Istri saya tentu lebih memilih ngumpulin sampah organiknya saja. Pokonya bagi dia asal disediaan wadah khusus untuk menampung sampah. Memang kadang sih masih suka nyempil-nyempil dikit sampah anorganik. Tapi tidak apa-apa biar saya yang misahin, dari pada diprotes, terus jadi pundung kan bahaya. Bisa hilang satu personil kunci nih, hehe. Karena kita ketahui, dapur biasanya adalah penyumbang sampah organik terbesar dalam satu keluarga. Saya biasanya bertugas memotong-motong sampah agar ukurannya lebih kecil, sehingga lebih cepat terurai. Mengaduk, menambahkan unsur coklat, dan fungsi kontroling juga. Yaa tugasnya memang banyak, tapi itung-itung sebagai konsekuensi penggagas utama. Tapi tidak apa-apa, yang penting demi kebaikan bumi tercinta yang Tuhan amanahkan kepada kita sebagai manusia. Sedangkan anak saya yang baru kelas 1, tugasnya sederhana, bantuin saya numpahin sampah yang udah dicacah, untuk kemudian bantu mengaduk menggunakan bambu. Pokonya kalau dia, gimana caranya biar dia merasa senang aja melakukannya.
Setelah enam bulanan berjalan, tibalah pada situasi yang tidak saya duga. Sepertinya mikroorganisme di dalam komposnya mati. Hal ini berdasarkan beberapa indikator yang terlihat, seperti sampah yang lama terurai, serta suhu yang turun. Situasi ini berawal dari kami sekeluarga pergi ke luar kota selama satu minggu penuh. Biasanya saya rutin untuk memasukkan sampah dan mengaduk kompos, maksimal 2 hari sekali. Mungkin selama satu minggu ditinggal pergi, mikroorganismenya kehilangan makanan dan kehilangan perhatian, hehe. Beberapa magot juga sudah berubah menjadi lalat. Sampai saat ini masih mencari bagaimana caranya agar sisa sampah yang sudah terurai, kurang lebih ¾ ember masih bisa dihidupkan lagi mikroorganismenya, dan proses penguraian bisa berjalan kembali. Ada yang tau?