Kalau hidup diibaratkan perjalanan, berarti butuh tiga hal dasar. Arah, peta, dan jalur. Arah menunjukan akhir yang hendak dicapai, peta menampilkan kesadaran, dan jalur menuntun pada tujuan.
Tiga hal dasar ini bukan melulu benda, bisa jadi adalah orang lain, bisa juga kejadian, bahkan bisa jadi adalah diri sendiri. Misalnya, diri sendiri adalah peta. Karena kemampuan pemetaan situasi yang terasa natural.
Pemetaan seperti kategorisasi, melihat sebab akibat, menemukan pola, sampai membuka berbagai tawaran gagasan, dalam merespon lingkungan. Membutuhkan kompas sebagai penunjuk arah dan jalur untuk dijalani.
Kompas bisa dalam bentuk orang lain, yang kemampuan visionernya terasa natural. Yang mampu menggambarkan ujung dari perjalanan hidup ini seperti apa. Yang seakan membantu banyak orang melihat nilai yang selama ini luput dari pandangan padahal tiap hari menjalankan.
Jalur bisa dalam bentuk karya orang lain, yang menuntun. Seperti tata laksana suatu acara. Seperti protokol yang perlu ditaati. Seperti aturan yang perlu dipenuhi. Yang memberikan efisiensi dalam suatu kebingungan, sehingga memberikan waktu untuk menemukan makna di sela-sela usaha.
Kalau ketiga karakter ini bersatu, bisa jadi tim yang luar biasa dalam perjalanan hidup ya sepertinya. Oh belum, belum. Butuh dua karakter lagi, sang alasan dan si kesempatan. Jadi keinget cerita legenda journey to the west. Berlima kan ya mereka.