Untuk apa sibuk mengisi kekosongan, bukankah kekosongan itu sudah penuh mengisi. Penuh dengan kekosongan. Membuat yang yang tidak kosong menjadi berarti.
Seperti arang bakaran batangan pepohonan. Yang dalam setiap bongkahnya terdapat celah kosong. Yang setiap celah kosongnya menjadikannya berarti.
Karena kekosongan itu, mampulah menyimpan air. Karena kekosongan itu, mampulah menyimpan nutrisi. Karena kekosongan itu, mampulah mengisi kepenuhan dirinya. Bermanfaat.
Seperti kekosongan dari yang seperti biasanya. Seperti kekosongan dari keseharusnyaan. Seperti kekosongan dari repetisi tradisi, repetisi tra da isi. Karena makna yang diulang-ulang pun jadi usang.
Tanpa kekosongan, tiada kebaruan. Mempertahankan isi, malahan mengosongkan. Terlalu penuh jadinya kosong, tiada tempat bagi aktualisasi. Sibuk mengisi, tak ada void untuk menjadi.
Stop. Hentikan memberi kalau belum mampu menerima. Isi hanyalah repetisi, ketika kosong adalah aktualisasi. Seperti tanah yang mengapresiasi akar, mengosongkan diri.
Bukan tanah, justru jeda di antaranya lah yang menjalarkan akar. Semakin penuh, semakin padat, semakin dangkal, semakin menghambat. Semakin kosong, semakin luang, semakin dalam, semakin berkembang.