"Mas bro, hari Sabtu depan tanggal 9 Kita ngumpul di tempat mbak X dalam rangka ulang tahunnya mas Boss, ya. Jam 2 siang, ajakin mbak Nina ya, mas"
Malam ini ketika saya baru saja pulang hang out dengan Nina dan Kano, ada pesan masuk dari salah seorang kenalan. Saya langsung menjawab dan mengatakan terima kasih sudah diundang dan akan diusahaka untuk ikut.
"Harus dateng, mas, mosok ultahe boss ora dateng." Katanya lagi
Obrolan kami langsung soal menu. Katanya ada sayur asem, ikan asin dan sebagainya. Ini adalah sayur asem betawi dan dimasak oleh orang asli betawi. Saya yang memang tukang iseng langsung bertanya apakah ada jengkol atau tidak. Tidak lama dijawab:
"Arep digawekke jengkol, mas jare mbak X"
Hahaha.. kalau sudah begini memang saya tidak bisa lagi berkilah. Jengkol itu jauh lebih menarik hati saya daripada sepotong steak yang harum dan empuk hahahaha..
Entah mengapa saya memang sejak kecil menggemari jengkol walau saya tahu risikonya yaitu akan ada bau tidak sedap. Hahaha.. Saya pada dasarnya menyukai tekstur jengkol yang kenyal. Sulit diungkapkan ketika gigitan pertama dan keunikan tekstur yang tidak dapat saya temukan di jenis makanan lain. Kemudian ada sedikit rasa pahit dan bau yang khas. Ini adalah pengalaman yang sulit dilupakan.
Risiko sesudah merasakan rasa puas dan nikmat dari mengkonsumsi jengkol adalah mengantongi banyak sekali permen peppermint. Tujuannya agar napas "jengkol"-nya diganti dengan napas segar peppermint. Kadang berhasil kadang juga tidak. Tapi itu risiko yang selalu berani saya ambil demi jengkol.
Memangnya di Amerika ada jengkol? Banyak! Entah dari negara mana tapi ada toko-toko yang menjual jengkol dalam botol walau tentu saja tekstur dan baunya menjadi tidak sama lagi. Nah namanya orang Indonesia yang sangat kreatif, sekarang ada toko online yang mendatangkan jengkol dari tanah air. Bayangkan! Ada yang berani dan bisa mendatangkan jengkol segar. Orang-orang berebut memperoleh ini, apalagi mereka yang memiliki binis sampingan menjual masakan. Mereka langsung borong jengkol berkilo-kilo walau harganya selangit, toh sesudah dimasak, dibuat rendang, orang berani bayar mahal. Bayangkan saja jengkol sebutir dihargai sekitar $1. Mahal khan?
Saya ingat beberapa waktu sebelum pindah ke Fort Collins, di Smipa ada beberapa orang tua yang mengadakan lomba masak jengkol, tidak tanggung-tanggung malah panitia menyediakan t-shirt dengan gambar jengkol wars! Hahaha.. Kaos itu sudah saya ajak kemana-mana selama 7 tahun lebih tinggal di Amerika. Sudah saya bawa ke California, Hawaii, Washington DC, New York, dan beberapa tempat lain. jadi kaos jengkol itu sudah melanglang buana. Iseng saja, karena saya penggemar jengkol maka kaos itu sengaja saya bawa-bawa saya kenakan untuk berfoto ria sebagai bukti bahwa kaos itu sudah jalan-jalan jauh dari tempat asalnya di Bandung hahahaha.
Hari ini hari Jumat, hari terakhir kerja sebelum libur akhir pekan. Saya sangat amat lelah sesudah mengurus banyak unit ditambah hari ini ada meeting dengan salah seorang direktur. TIba di rumah karena sudah sangat lelah, saya tidak menmukan bahan obrolan yang berobot. Baru dimulai dengan ajakan kumpul-kumpul sampai akhirnya janji akan dibuatkan jengkol. Nah dari situ timbul cerita ngawur saya hari ini hahaha..