Tahun baru, resolusi baru. Hal tahun baru, merupakan sesuatu yang seru, sekaligus juga merupakan refleksi akan apa yang akan mendatang. Salah satu perihalnya adalah rapot semester 1 milikku, yang menceritakan proses kegiatanku selama semester lalu di KPB.
Selama beberapa hari lalu membaca raport, ada berbagai hal yang kuamati dan kumaknai selama membaca. Salah satunya adalah catatan Kakak mengenai rutinitasku menulis Atomic Essay, artikel, jurnal pagi yang tidak pernah ketinggalan. Atomic essay yang kutulis juga merupakan sesuatu yang dari 0, bukan merupakan sesuatu yang sudah ditulis seseorang. Jadi, perjuangan yang kulalui lebih besar.
Ironisnya, semester lalu, rutinitas yang aku lakukan di rumah (kebiasaan rumah) tidak berjalan dengan baik. Saat berkegiatan secara daring, setiap pagi hanya bangun, sarapan, lalu kegiatan online (jarang mandi). Namun, selama liburan ini, aku sudah membangun rutinitas yang baik yaitu mandi pagi dengan air dingin. Sehingga, pada saat hari pertama sekolah pun, sudah mandi pagi.
Hal kedua yang menurutku baik dari pencapaianku semester lalu adalah daya juang dan nurani, meskipun belum ada yang optimal. Soal daya juang, penilaian yang diberikan Kakak adalah 4. Sementara, aku sendiri menilai daya juang sebagai nilai 5 (di chakram). Dalam mengikuti kegiatan sekolah sehari-hari, sebenarnya daya juang dan keinginan untuk keluar dari zona nyaman yang kumiliki, sudah besar. Namun, ide, kreativitas, dan fokus belum ada padanya. Karena itu, seringkali aku jadi terjebak dalam ‘lingkaran setan’. Salah satu contohnya adalah Proyek mandiri Video Tutorial Basket semester lalu.
Namun, aku tidak menyerah dengan hasilnya begitu saja. Karena menjelang akhir proyek, performa dalam mengerjakan & menyelesaikan proyek dariku naik drastis. Singkat cerita, aku terdesak. Akhirnya, daya juangku keluar, dan proyekku selesai secara dadakan dan mepet. Karena rasa terdesak, daya juangku baru keluar, dan aku juga baru melakukan pilihan-pilihan dan langkah konkret.
Secara nurani dan moralitas, menurut rapot, aku sudah oke dalam menjalankan kebiasaan dan penerapan baik. Aku sendiri sudah bisa merasakan dampak yang KPB berikan terhadap nilai-nilai yang aku miliki, ketimbang dengan 2 tahun lalu. Hal itu bisa terjadi, karena adanya ruang diskusi, refleksi, dan komunikasi. Semuanya kulakukan di KPB secara intensif, sehingga nilai-nilai, etika, dan nurani yang kumiliki bisa semakin berkembang.
Namun, meskipun nurani dan nilai-nilai yang ada sudah baik, kenyataan dan penerapannya kurang konsisten. Ada saat-saat dimana aku sedang malas, dan rasa malas itu mendominasi nilai-nilai yang berada di pikiranku. Di saat-saat lain, konflik antara rasa malas dan pikiran justru berakhir dalam ‘kemenangan’ nilai-nilai yang telah tertanam. Menurutku, hal yang paling mengkhawatirkan adalah tingkat fokus yang diberikan terhadap kegiatan. Jika pada saat kegiatan tatap muka, terkadang aku kurang fokus pada hal hal yang terjadi di sekitarku. Tanpa disadari, aku tiba-tiba melakukan tindakan yang keluar dari nilai dan pikiranku, misalnya adalah kebablasan main hp di sekolah. Padahal, pada saat lain waktu, aku bisa anti banget dan tidak mau pegang hp, karena tahu dan tidak mau terdistraksi.\
Bisa disimpulkan bahwa meskipun aku sudah ‘tau’ dan sudah ‘bisa’, namun masih belum ‘biasa’ sesuai pepatah Aki Muhidin. Sehingga, karena tidak biasa, hal ini belum optimal.
Hal terakhir yang ingin aku angkat adalah pemakaian gawai. Dalam raport yang tertera, ada beberapa kesan dari teman-teman dan Kakak mengenai penggunaan hp. Tertulis ‘Haegen sangat sering main hp pada saat kegiatan berlangsung, terkadang di saat yang salah’. Aku sebenarnya cukup heran, karena aku tidak ingat sama sekali, kapankah terakhir kali aku main hp di saat kegiatan berlangsung secara bolak balik. Di lain sisi, teman-teman K11 yang lain, secara umum juga sering menggunakan gawai saat di sekolah. Aku memiliki pertanyaan, apakah masalah penggunaan gawai ini, berlaku/dinilai ke semua teman-temanku juga? Atau hanya terfokuskan ke aku sendiri saja ya?
Mulai di refleksi, ternyata benar, ada banyak saat dimana aku mengecek hp pada saat teman-teman lain sedang berkegiatan. Terutama, pada saat aku sedang tidak ada kerjaan (gabut). Wajar sih, kalau kekurangan aku dalam mengelola hp ini akhirnya didiskusikan dengan orangtuaku juga (yang kupikir begitu)
Tindak lanjut yang akan kulakukan di semester ini:
Sekian saja dari apa yang aku refleksikan di semester ini, mohon maaf apabila ada kendala dalam membaca tulisannya. Semoga kedepannya bisa lebih lengkap dan bermanfaat lagi.