Proses berpikir secara serius dan mendalam adalah peningkatan level dari proses berpikir biasanya. Aku baru saja menyadari hal tersebut karena pengalamanku akhir-akhir ini menunjukkan, ternyata aku tidak menggunakan 100% proses berpikir.
Ceritanya, aku sedang melakukan les matematika bersama seorang guru, yang memberikanku sebuah soal. Karena aku hanya mengerti basic-basicnya saja, maka aku tiba-tiba terkejut atas bobot soal yang diberikan. Karena itu, aku coba berpikir, bagaimana caranya untuk keluar dari situasi seperti ini? Setelah itu, aku mendapatkan sebuah pencerahan sehingga berhasil mengerjakan soal tersebut secara benar, dan cepat. Awalnya, aku tidak terpikir metodenya akan seperti apa, tetapi karena aku 'ngulik' di dalam pikiran, solusi berhasil ditemukan.
Faktanya, banyak yang bilang, kapasitas otakku itu sangat besar, dan logikanya sangat kuat. Aku sendiri juga kadang merasakan hal-hal yang mencerminkan kekuatan diriku tersebut, misalnya adalah perhitungan harga, asumsi yang nyaris tepat, dan perkiraan. Saat aku berkegiatan di KPB, kadang aku merasa kurang memaksimalkan kemampuan tersebut, karena itu, aku juga kadang menjadi tidak berpikir serius, akhirnya ide tersebut menjadi 'bego' dan kurang baik.
Di sisi lain, orang lain banyak mengkritisi aku karena aku kurang memiliki daya kreativitas yang baik, bahkan idenya juga berada di dalam kotak, tidak keluar kotak. Aku merupakan tipe orang yang realis, sehingga apa-apa harus realistis baru dijalankan, karena itu aku jadi terkotakkan dan kurang berimajinasi mengenai hal-hal gila di luar sana.
Sementara, 1 kejadian yang bermakna bagiku tadi adalah saat perencanaan ide konten. Aku merasa, konten ini perlu dianggap serius agar maksimal, kalau tidak, tidak akan laku. Disana, aku melakukan refleksi, berpikir secara kritis sambil menutup mata agar fokus, dan tiba-tiba mendapatkan ide. Ide iklan yang terinspirasi dari iklan Tokopedia namun dikembangkan kembali. Setelah membuat perencanaan, ternyata idenya diapresiasi oleh Kakak dan dibilang 'out of the box' padahal jelas-jelas, karakter tersebut yang aku gambarkan bukan tipe diriku banget. Meskipun begitu, aku berpikir, iklan ini memiliki potensi yang terlalu besar, sehingga sulit untuk memaksimalkannya (dari kapasitas kita yang segini-gini aja, tidak expert membuat iklan).
Kekuranganku tadi adalah, ternyata aku kerjanya lambat. Selama beberapa puluh menit, karena idenya baru muncul, perencanaan yang aku buat juga lama dan sulit dipikirkan. Dibandingkan teman-teman lain, kayanya pekerjaanku lambat dan kurang spontan, terutama jika dalam bentuk tulisan. Tidak bisa dibayangkan kalau aku mengerjakan secara lambat, dan tidak kreatif.
Ada orang yang bilang, kelemahan terbesar mungkin bisa menjadi kekuatan. Yang terlihat kekuatannya, bisa jadi adalah kelemahannya (diadaptasi dari sebuah film). Apakah aku memiliki kelemahan? Tentu saja. Apakah semua kelemahan yang saat ini aku miliki, betul-betul kelemahan? Sangat tidak tentu. Bisa jadi, semuanya menjadi kekuatan kalau dikembangkan dan tidak dibiarkan.
Keren Haegen refleksinya.