Topik obrolan hari ini muncul ketika saya ikut nimbrung "meeting" Nina dengan salah satu petugas di kampus tempat Nina mengajar di Bandung. Katanya berdasarkan peraturan pemerintah, Nina sudah dianggap usia pensiun. Yang dibahas adalah berapa dana yang dimiliki sesudah bekerja selama lebih dari 30 tahun.
Baiklah, ini pendapat saya mengapa orang memutuskan untuk pensiun. Yang paling utama adalah bersitirahat sesudah sekian lama meniti karir. Oleh sebab itu orang yang pensiun kebanyakan diberi ucapan selamat. "Congratulation on your retirement" Begitu yang biasa saya dengar. Karena apa? Karena masa pensiun adalah masa untuk menikmati sisa hidup. sesudah seumur hidup berjuang, bekerja keras, sekarang saatnya menikmati hasil kerja keras selama ini dengan misalnya menghabiskan masa istirahat bersama keluarga, travelling, menjalankan hobby yang selama ini tidak bisa dilakukan karena sibuk dengan pekerjaan, dan lain sebagainya. Itu menurut saya yang disebut dengan pensiun.
Nah lalu apa yang saya rasakan seusai Nina rapat soal dana pensiun? Bingung! Bukan bingung ingin melakukan apa di masa pensiun, bukan bingung memilih tujuan travelling, bukan bingung menentukan hobby mana dulu yang akan dijalankan, tapi semata-mata saya bingung bagaimana akan bisa melajutkan hidup hingga akhir hayat dengan dana sebesar itu! Saya tertawa, tapi bukan tertawa bahagia tapi tertawa kecut! Hahahaha..
"You know No, no matter how much you hate your job, do not ever think to give up and go back to live with us in Bandung." Kata saya pada Kano ketika dalam perjalanan pulang dari pekerjaannya.
"Why, dad?" Tanya Kano
Saya jelaskan sistem dana pensiun di tempat kerja ibunya. Saya katakan bahwa jika kami benar-benar pensiun dan dana itu kami bagi setiap bulan selama 10 tahun, maka dana itu akan habis, dan setiap bulan dana yang kami peroleh tidak akan pernah cukup untuk biaya hidup. Pensiun artinya bukan untuk istirahat, bukan untuk menikmati hidup, tapi bingung bagaimana menginvestasikan dana pensiun itu untuk modal agar dapat diputar dan menghasilkan dana yang cukup untuk hidup setiap bulannya!
Lalu saya juga bandingkan dengan sistem dana pensiun di tempat Kano bekerja. Jika dia bekerja selama 30 tahun, maka sesudah 30 tahun masa bekerja, dia bisa pensiun dan menerima gaji penuh sebesar gaji terakhir dia untuk selama hidupnya. Nah Kano mulai bekerja ketika berusia 18 tahun. Dia kalau mau, dia bisa pensiun di usia 48 tahun dan bisa menikmati sisa hidupnya dengan menerima uang pensiun setiap bulan sebesar gaji terakhir dia!
Mendengar penjelasan saya kano mengangguk-angguk. "So much different, If you guys need anything when you are in Indonesia, please let me know. I can spare some of my salary for you to live." Kata Kano. Saya dapat melihat dia begitu prihatin.
"Well, it is good enough that Mom still gets something for her retirement. If she works somewhere else, she might get nothing." saya berkata untuk sedikit menghibur. "We may be able to invest that money on something that can help us to cover daily expenses." Sambung saya lagi.
Kami berdua terdiam, terbenam dalam pikiran masing-masing. Saya sempat tersenyum sejenak menyadari bahwa kini sudah bisa berdiskusi dengan dia tentang hal-hal serius dalam hidup kami. Jika mengingat betapa kekanak-kanakannya dia ketika lebih dari 7 tahun lalu kami pindah ke sini, sepertinya sulit bisa dipercaya. Dulu bahkan dia masih bertanya pada saya tentang apa yang yang harus dia katakan ketika akan membeli sebotol jus apel di toko kecil di airport ketika kami mendarat di Chicago. Sekarang dia malah berusaha menawarkan sebagian dari gajinya untuk membantu orang tua. Hahaha.. Saya mau tidak mau bersyukur bahwa Nina dan saya telah mampu mendidik dia dengan baik.
"How's your class?" Tanya saya mengalihkan pembicaraan.
"Very good. I believe I am still going to get an A" Katanya
"If you don't want to spend the rest of your life in the kitchen. Finish your school. Get your degree and you will be able to choose your career." Kata saya
"That's my goal." Jawabnya pendek.
Kami berdua berdiam lagi. Jalanan yang kami lewati agak gelap. Lampu-lampu jalan di sini memang tidak seterang di Bandung, juga lampu rumah-rumah di sisi jalan tidak mampu menerangi jalan. Kami meluncur perlahan lahan. Saya bersyukur bahwa Kano tidak akan pernah mengalami kondisi seperti orang tuanya di masa pensiunnya nanti. Mudah-mudahan dia akan berhasil dalam hidupnya.
Foto credit: hrblock.com