Tulisan ini ditulis ketika aku mengajukan lamaran ke Rumah Belajar Semi Palar
cerita lanjutan dari https://ririungan.semipalar.sch.id/maulrest/blog/5128/aes037-tentangku-bagian-1
Minat
Secuil kisah tentang Maulana Restanto akan dimulai dari cerita minat yang ia miliki dan jalani. Dia orang yang cukup terbuka dengan kegiatan yang biasa disebut minat, bisa jadi akarnya muncul dari minat yang ia sukai dari kecil yaitu membaca.
Pastinya ketika kita menyebutkan membaca sebagai minat, yang akan ditanyakan oleh orang-orang adalah berapa banyak buku yang sudah dibaca selama ini. Pertanyaan ini cukup sering Maul dapatkan, tapi anehnya kita tidak akan melihat terlalu banyak buku tersimpan di rak kamarnya. Sejak kecil memang Maul jarang sekali meminta ataupun diberikan buku oleh orang tuanya, namun ia sangat suka sekali membaca koran ataupun ensiklopedia yang biasanya disimpan di ruang tunggu, perpustakaan sekolah, atau ruang tamu yang ia kunjungi dengan keluarganya.
Ketika mendekati skripsi barulah ia mulai menggeluti buku-buku karya Dr. Seuss yang awalnya dia pakai untuk skripsi dan akhirnya sangat tertatik dengan pesan-pesan tersirat dari buku-buku ini. Berlanjut ketika ia harus merantau dengan program SM-3T ke Sulawesi, di mana tidak ada sinyal internet dan listrik menyebabkan ia membaca segala buku sumbangan yang ada di lemari sekolah. Dikarenakan dari kecil jarang sekali pilih-pilih buku, maka hampir semua bacaan ia lahap.
Setelah pulang dari program SM-3T dan diikutsertakan di program PPG secara gratis, ia dapat kesempatan untuk memaksimalkan dana buku yang diberikan pemerintah. Dia pun coba mencari-cari buku tentang dunia pendidikan dan akhirnya memilih Pedagogy of the Oppressed dari Eyang Paulo Fraire dan Teach like Finland dari Om Timothy D. Walker. Dua buku yang sangat berpengaruh terhadap filosofi pendidikan yang ia pegang dan jalani, tapi tentunya juga berharap masih terus berkembang dan beradaptasi sesuai kebutuhan murid dan guru dari ilmu-ilmu baru yang bisa didapatkan.
Dikarenakan keterbukaan terhadap apapun jenis bacaan yang ia dapatkan, Maul pun sangat terbuka dengan aliran musik, film, dan video games yang biasa ia nikmati. Untuk musik, dimulai ketika SD, ia mendengar Westlife sambil meniru gaya para penyanyinya. Lalu di bangku SMP ingin berubah meniru yang lebih macho dengan mendengarkan MCR, Greenday, Muse, dan band-band lainnya dari pita kaset lengkap dengan liriknya. Masuk ke SMA ia juga mulai masuk ke dunia The Beatles namun tetap tidak melupakan musik alternative dengan mengikuti 30 Seconds to Mars. Ketika kuliah ia berkenalan dengan musik Britpop: Blur, Pulp, Suede, Oasis adalah beberapa band favoritnya. Sepertinya Hoppipolla dari Sigur ros, Dimensions milik Arcade Fire, dan Pictures of You-nya The Cure, adalah tiga lagu di puncak Maul’s Music Chart sampai saat ini. Ketika sudah berkeluarga, lagu Father and Son dari Cat Stevens sangat sering ia lantunkan, bisa jadi dikarenakan ia mulai merasakan dua perspektif yang ada di dalam lagu tersebut.
Dengan semua minat terhadap musik ini pastinya sebagai anak SMA dan muda Kota Bandung ia pun mencoba membentuk band dan memilih instrumen bass untuk dimainkan. Namanya juga hanya gaya-gayaan, skill bermusik yang ia miliki tentunya pas-pasan. Band-nya juga tidak menjadi besar karena ekspektasi para punggawanya juga tidak besar. Sedikit kemampuan bermain gitar ia dapatkan dan lumayan berfungsi untuk menghibur teman-teman, istri, anak, dan murid. Ya walaupun tetap pas-pasan, ditandai dengan wajibnya melihat situs chord lagu ketika bermain, selalu berharap semoga ada manfaatnya. Aamiin.
Semua kejadian yang ia anggap keren ini tidak membuat Maul alergi dengan musik Indonesia dan dangdut, malah sebaliknya ia mulai menikmatinya terutama semenjak berangkat ke Sulawesi. Lagu mainstream dari Peterpan, Padi, Sheila on 7, dan lagu-lagu populer lainnya tentu ia sukai. Begitu juga dengan lagu dangdut seperti Pasrah dari Muchsin Alatas yang awalnya terdengar ngilu lama-lama menjadi syahdu dan menjadi lengkap ketika dibumbui lirik yang cukup tragis. Hanya saja ia tidak suka ketika dangdut tidak menjadi elegan, membuat bising tetangga di malam hari, sumber keributan, dan melecehkan wanita. Masih berharap dangdut elegan seperti Memandangmu-nya Ikke Nurjanah bisa bermunculan kembali.
Begitu juga dengan industri film, ia tidak begitu bermasalah dengan aliran apapun asalkan ada nilai dan manfaat baik filosofis ataupun sekadar untuk hiburan bagi penontonnya. Dari film Quentin Tarantino yang butuh fokus cukup tinggi karena bisa membuat kita bingung dan mengantuk ketika tidak mengikuti percakapan tokohnya, sampai film-film komedi ringan dari Jim Carrey yang bisa sedikit menghibur ketika ia mendapatkan hari yang buruk. TV series dari Friends, GoT, Marvel Cinematic Universe, dan anime Jepang One Piece juga ia coba ikuti.
Banyak juga film yang bersinggungan dengan tema pendidikan lalu menjadi inspirasi untuk dirinya, contohnya film Dead Poets Society, 3 Idiots, dan Good Will Hunting yang menurutnya campuran antara pendidikan dan psikologi. Namun ada fenomena menarik ketika ia sudah berkeluarga, ia jadi sering menonton hanya recap atau alur singkat yang ditampilkan di beberapa kanal YouTube. Kecuali kalau filmnya benar-benar ia ingin tonton secara utuh.
Sama halnya dengan musik dan film, sesungguhnya video games adalah salah satu dari tiga sumber utama belajar Bahasa Inggris untuk Maul. Dikarenakan ibu dan ayahnya tidak berbahasa Inggris, jadilah hanya ia dan kakaknya di rumah yang mencoba eksplorasi bahasa asing ini. Untuk games ia lebih memilih jenis permainan yang penuh dengan alur cerita, biasanya game beraliran RPG seperti Final Fantasy. Ketika kuliah ia bertemu dengan seri Assassin’s Creed yang menyinggung banyak tema sejarah namun dipadukan dengan fiksi, sangat cocok dengan minat Maul yang cukup tertarik dengan sejarah manusia.
Cukup panjang membahas bagian minat ini, padahal bisa jadi ada minat yang terlupa belum terbahas, semoga pihak Semi Palar masih mau lanjut membaca ke bagian selanjutnya.
Bersambung ke bagian 3....