AES 495 Wanting What I Can't Have
joefelus
Friday September 30 2022, 2:29 AM
AES 495 Wanting What I Can't Have

Saya berbaring menunggu kantuk datang sambil mendengarkan lagu. Sudah beberapa malam saya berusaha membayar hutang tidur yang terganggu beberapa malam yang lalu. Walau hanya semalam, dampak lelah masih sangat terasa. Lagu demi lagu saya dengarkan, dari seorang penyanyi Brazil hingga para penyanyi kondang seperti Tony Bennet maupun penyanyi masa sekarang.

Sebuah lagu cantik menarik perhatian saya. Suara bariton pria ini terdengar begitu indah ketika menyanyikan sebuah lagu dari Les Misserables, I Dream A Dream. Kemudian dia melanjutkan dengan beberapa lagu dari Phantom of The Opera. Indah sekali. Sekejap saya membayangkan di panggung dengan suara indah duduk menghadapi piano sambil bernyanyi. Wow!

Bermain dengan angan-angan memang mengasyikkan. Kita tidak mempunyai batasan, boleh bermain sejauh dan setinggi yang kita mau. Ini hanyalah sebuah permainan yang innocent yang bisa membuat tubuh rileks dan menjauh dari tekanan, stress. Ini sebuah keinginan yang tidak akan pernah terlaksana tentunya, karena secara sadar masih berpijak pada kenyataan.

Manusia berfantasi merupakan hal yang biasa. Saya yakin semua orang mempunyai mimpi, angan-angan atau berfantasi menjadi orang lain. Semua itu sebetulnya secara tidak sadar memberi tahu sesuatu yang tidak dimiliki saat ini. Seperti misalnya saya berfantasi duduk di warung nasi padang di jalan Patrakomala, salah satu warung nasi padang favorit saya! Kenapa saya membayangkan itu? Karena sekarang saya tidak bisa!

Whether in the form of some unattainable dream or the competing desires of another person. In the pursuit of these desires characters can find meaning, even if it doesn’t turn out as they hoped it would. After all, desire can be wayward, even foolish or dangerous, and clarifying at the same time. Your fantasy of the life you want tells you a lot about what’s missing in the life you already have.

Saya lupa siapa yang mengatakan kalimat-kalimat di atas yang saya kutip. Agak merasa bersalah juga menyontek tanpa mengetahui sumbernya. Tapi yang beliau katakan itu sangat betul. Manusia mempunyai banyak keterbatasan dan untuk menjebatani keterbatasannya manusia menggunakan angan-angan, fantasi dan mimpi agar merasa ada semacam kepuasan. Kita selalu berharap akan sesuatu yang tidak kita miliki.

"Aku ingin begini. Aku ingin begitu. Ingin ini itu banyak sekali

Semua semua semua. Dapat dikabulkan. Dapat dikabulkan. Dengan kantong ajaib"

Kalau pernah kecil (tentunya) atau punya anak kecil, pasti kenal lagu di atas dari cerita Dora Emon. Lagu sederhana ini sebetulnya benar-benar menggambarkan keinginan setiap manusia.

Ketika kecil saya senang sekali menggambar Paman Gober, karakter dari Donald bebek. Yang saya gambar adalah seekor bebek yang bermain ski di atas tumpukan uang logam! Kenapa begitu? Setelah dipikir-pikir karena pada saat itu saya mengenali lingkungan sekitar, saya memahami kondisi keluarga di mana saya dibesarkan sebagai keluarga yang tidak mampu. Bayangkan saja ketika saya membawa piring ke tukang nasi lengko untuk sarapan dan berkata," Mommy bilang suruh ambil nasi lengko, mbak." Lalu mbak itu melayani dan ketika memberikan sepiring nasi lengko, mbak itu berkata."Kasih tau Mommy ya, yang kemarin belum dibayar!"

Saya hanya mampu mengucapkan terima kasih lalu kembali ke rumah sambil berangan-angan menjadi Paman Gober yang banyak uang bisa membeli nasi Lengko tanpa harus bilang disuruh mommy, bahkan saya akan membelikan ibu saya sebakul! Saya berfantasi, walau hanya sebatas fantasi anak kecil. Tapi sejak saat itu saya berniat untuk tidak akan pernah berhutang dan membiarkan anak saya untuk mengalami apa yang saya alami saat itu! My life told me then what I did not have!

Yang salah adalah jika kita berfantasi menjadi sesuatu atau seseorang yang bukan saya atau kita, lalu melupakan hal yang saat ini kita miliki! Melupakan hal yang kita miliki menurut saya merupakan suatu insult pada anugerah yang dihadiahkan pada kita. Melupakan hal yang kita miliki sama saja dengan tidak bersyukur.

Yang sedang saya khayalkan saat ini adalah duduk di halaman depan sebuah kabin di New Hampshire atau Vermont. Itu selalu menjadi angan-angan saya sejak dahulu kala. Kenapa begitu? Karena di musim gugur, daerah sana bukan main indahnya. Penuh dengan warna merah, kuning, emas dan coklat. Saya hingga sekarang ini belum diberi kesempatan untuk ke sana. Tapi menghayal duduk di teras kabin sambil berkerudung selimut dengan kopi panas di tangan memang sesutau yang menyenangkan selama saya tetap bersyukur bahwa walau tidak semerah di Vermont, di Fort Collins masih bisa menikmati warna kuning di mana-mana. Ini saja sudah jauh dari yang pernah saya impikan! Saya harus tetap bersyukur bahwa dalam hidup ini sudah diberi kesempatan yang luar biasa seperti ini.

Saya akan tutup esai hari ini dengan sebuah cerita:

Suatu masa ada seorang raja yang sedang berjalan-jalan keliling kerajaannya. Ada seorang pengemis duduk di pinggir jalan dan meminta-minta. Sang raja berhenti dan bertanya," Apa yang kamu inginkan?"

"Yang saya inginkan belum tentu baginda dapat kabulkan." Kata pengemis.

"Saya raja yang punya kuasa tidak terbatas. Saya akan mampu mengabulkan permintaan apa saja yang kamu mau." Kata raja.

"Saya ingin baginda dapat memberikan sesuatu hingga mangkok saya ini penuh." Kata pengemis sambil menyodorkan mangkuk yang dia gunakan untuk meminta-minta.

Raja menyuruh ajudannya untuk memberikan uang agar mangkuk itu penuh. Hanya saja ketika setumpuk uang itu dimasukkan kedalam mangkuk, uang itu segera menghilang! Raja menyuruh mengambil lebih banyak uang, seketika uang itu juga lenyap. Raja kemudian menyuruh memberikan batu intan dan permata, emas dan banyak lagi. Raja merasa dia memiliki kuasa. Semuanya lenyap. Raja menyerah dan mengakui kekalahannya.

"Saya mengaku kalah, saya tidak mampu mengabulkan apa yang kamu minta. Tapi sebelum saya pergi, tolong katakan rahasia mangkok ini." Kata raja.

Kata pengemis," Mangkuk ini dibuat dari pikiran dan keinginan manusia! Kita harus mengerti bagaimana hidup ini terus berubah. Pertama kali keinginan kita terwujud dan merasakan kepuasan dan kebahagiaan, beberapa waktu kemudian perasaan itu menjadi tidak ada lagi artinya. Karena perasaan itu menjadi biasa saja dan menjadi hampa, maka kemudian timbul keinginan baru! Manusia tidak pernah merasa puas!"

The true journey is to find the inner self because human desires have no end!

Foto Credit: istockphoto.com

You May Also Like