AES 270 Catch me If You can
joefelus
Thursday February 17 2022, 5:37 AM
AES 270 Catch me If You can

Ini bukan judul film. Memang ada film yang dibintangi Leo Dicaprio. Hmm.. nama bintang film ini kok jadi mengingatkan saya pada nama-nama di Jawa Barat yang banyak menggunakan pengulangan yang kemudian jadi bahan guyonan seperti Cecep Gorbacep, Kokom Sumarekom dan sebagainya. Hahaha.. ini bukan ngejek loh, saya cuma sedang iseng saja karena mulai mengantuk di tempat kerja dan menunggu waktu pulang.

Yang saya maksudkan dengan CMIYC, Catch me if you can, adalah program olahraga di tempat saya jadi anggota untuk tema endurance. Karena sudah 4 hari non-stop saya berolahraga, hari ini memutuskan untuk jeda sebentar membiarkan tubuh untuk istirahat dan menjalani masa "penyembuhan" sesudah semua otot dan jaringan disiksa selama berhari-hari. Kemudian juga saya belajar dari pengalaman minggu lalu bahwa tubuh saya tidak tahan untuk diforsir selama 5 hari.

Program ini sebetulnya adalah program endurance. Namanya juga endurance atau ketahanan, jadi artinya peserta diharapkan untuk bertahan dalam sebuah proses yang sulit, proses yang tidak menyenangkan tanpa menyerah! Untuk mengurangi efek "mengerikan" dari program ketahanan ini, maka menggunakan nama yang lebih seru, lebih lembut dan lebih menarik. Tapi itu hanyalah judul, sebab pada intinya prosesnya sama saja membuat menderita.

Saya tidak menyukai program endurance karena selama melakukan ini membuat saya seolah-olah hidup dengan penderitaan dan penuh penyesalan sudah memilih untuk datang berolahraga. Benar saja, ketika saya melihat template yang akan dijalankan besok, saya hitung ada 23 menit nonstop di treadmill dengan kecepatan beragam! Artinya 50% dari keseluruhan program akan dihabiskan dengan berlari!

Orang yang mengunggah "contekan" dari Australia itu bahkan berkomentar,"If you skipped yesterday (yaitu hari ini dan saya akan skip karena capek) because it was too much rowing, then you will either crying with joy for the long tread block or regretting your life choices! Hahaha... Ya berlari tanpa henti itu menjadi ajang refleksi tentang penderitaan hidup! Hahaha.. Mengapa begitu? Ketika sedang menderita, kita selalu ingin semua cepat berlalu, tetapi waktu tidak bisa diajak kompromi, waktu akan terus bergerak secara linear dengan kecepatan konstan tidak bisa dipercepat atau diperlambat. Ketika menderita, waktu menjadi musuh bebuyutan karena memberi kesan waktu bergerak terlalu lambat. 23 menit itu sepertinya hanya sebentar, kurang dari setengah jam, tapi dalam pendetiaan, 23 menit itu seperti tidak pernah berakhir!

Orang yang mempunyai keinginan biasanya bermusuhan dengan kesabaran. Tidak sabar akan sesuatu yang ingin segera terjadi, atau sebaliknya tidak sabar ingin sesuatu berakhir. Nah ketika berlari dengan kepayahan serta penuh penderitaan, hanya ini yang ada dalam pikiran saya. "Kapan ini semua berakhir?!" Lalu hal kedua yang saya pikirkan dan menghatui saya adalah,"Saya tidak kuat, saya ingin menyerah!" Pada saat yang bersamaan juga ada pertentangan batin yang terus mendorong saya untuk bertahan."Ini komitmen, sudah berjanji dan tidak boleh dilanggar." Nah saya yakin ini maksudnya yang dikatakan penulis dari Australia itu dengan mengatakan "regretting your life choices."

Berolahraga kemudian menjadi semacam metafor tentang kehidupan. Bukannya begitu? Nah disini dukungan sangat dibutuhkan. Seperti halnya dalam menjalani hidup kita tidak bisa sendirian, maka dalam berolahraga juga paling menyenangkan jika dilakukan bersama-sama dengan teman. Misery loves company? bukan begitu istilahnya? Orang yang menderita selalu butuh teman. Dengan menjalaninya bersama-sama, seia sekata, senasib sepenanggungan, maka segala sesuatunya akan terasa lebih mudah.***

You May Also Like