Tidak ada malam yang tidak ada bulan. Bahkan ketika malam, matahari tetap ada. Kita saja tidak mampu mempersepsikannya.
Eh, lebih tepatnya kita mempersepsikannya sebagai tidak ada. Karena tidak ada cahaya, kita persepsikan tidak ada. Padahal, ada.
“Padahal, ada.”
Inilah mantra pembenaran dari yang tidak menghadirkan karya tepat waktu namun tidak mampu menerima dianggap tidak ada.
Bukankah matahari berguna oleh cahayanya. Bulan pun demikian. Terlepas dari fakta bahwa bulan dan matahari selalu ada.
Realitanya, pada saat ini cahaya yang dibutuhkan dari kehadiran mereka itu ada atau tidak. Realita beda dengan fakta kan.
Mudahnya, keberadaan matahari dan bulan adalah pembenaran. Kebenarannya adalah cahayanya dapat dimanfaatkan atau tidak.
Seperti kita mencatat segala hal dan menyimpannya dengan rapi. Namun tidak memberikan karya cipta tepat waktu.
Pembenarannya, catatan dan tulisan itu ada dan mudah diakses. Kebenarannya, karya cipta tertulis maupun lisan itu tidak ada.
Seperti bulan di atas paranet, tidak jelas kelihatan dan tidak signifikan. Walaupun dilihat dari atap jelas terang, yang berkepentingan kan ada di dalam taman.
Bukan soal fakta dan keseharusnyaan lah suatu keberadaan itu. Justru soal realita yang saling direspon bersama. Selaras, lanjut. Tidak, cabut.