We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit. Katanya begitu. Nyatanya? Begini. Sama? Sama!
Berarti benar lah demikian adanya. Benar dan ada. Kebenaran, yang ada ya ada, yang tidak ada ya tidak ada.
Jadi ya atau tidak? Ya atau tidak, keduanya ada. Dan yang ada lah yang benar. Berarti ketidak adaan itu benar?
Benar sedemikian adanya ketidak adaan itu. Seperti adanya ketidak adaannya disiplin. Benar demikian.
Seperti ketidak adaannya respek. Benar demikian, karena yang ada dan tampak, tidak ada respeknya.
Seperti ketidak adaannya keberanian. Demikian lah adanya, ketidak beranian untuk menjadi rentan. Begitu benar.
Keberanian untuk menjadi rentan melahirkan daya tahan. Bukan daya tolak. Daya tolak hadir dari kebiasaan.
Kebiasaan lama yang diulang terus menerus di tempat baru. Dengan kemasan baru. Tetap saja usang.
Sibuk dengan banyak hal baru. Sebaru apapun sebanyak apapun, itu kan kebiasaan lama yang menolak saat ini.
Kaku pada sistem yang begitu menjamin dan dapat diandalkan. Sehandal apapun, itu ketakutan lama.
Ketidak mampuan menjadi rentan melahirkan daya tolak. Kebiasaan lama yang berulang, menolak realita di sini.
Masih diulang-ulang, sampai akhirnya diri diidentifikasi sebagai pengulangan itu. Biasa, si X ya emang begitu.
Biasa, si Y kan begini. Biasa, si Z. Sampai pada frasa ini, ketidak terdugaan pun sudah diduga.
Seperti kumbang yang melekat pada keset, sambil menarik daun. Sudah dapat diduga, kemana itu akan bergerak.