Seekor teman cilik ikut hadir di salah satu hari bersejarah. Serupa kumbang berwarna putih. Hinggap di ujung jari salah satu teman Nuwo Sesat saat mengindera. Lucu sekali bentuknya, mengingatkan pada serat kapuk yang biasa digunakan mengisi kasur atau bantal. Biasanya bersarung merah muda bergaris putih, kadang njendul di satu sisi, dan kempis di sisi lain. Tergantung posisi kepala sedang ingin berada di mana. Sang Kumbang seperti turut bersuka ria merayakan Festival Literasi di Semi Palar. Kembali bergema setelah beberapa tahun lamanya. Bergema, bergema, bergema di udara! (loh kok jadi nyanyi, hehehe). Literasi di Smipa, tak sekadar teks dan tulisan. Ternyata ia bermakna begitu luas sekaligus mendalam.
Di hari nan mendung syahdu ini, rasanya seperti diisi daya: penuh dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bertemu kawan lama, Sundea @salamatahari dan Kak Pipid. Suasana penuh cerita memenuhi setiap pojok Rumah Belajar ini. Riuh tawa dan decak kagum terdengar di mana-mana. Kak Pipid menyajikan Wayang Beber, Dea mengajak teman-teman mengindera, membuka pencerap rasa, menjejak segala rupa suasana. Rintik hujan ditemani angin, jatuh miring membasahi tanah. Aku pun baru tahu dari Dea, namanya bau tanah basah adalah petrikor. Teman-teman berkelana tanpa alas kaki, beberapa bahkan memetik daun dan mencicip rasanya.
Berita pun bisa ditulis menjadi cerita. Wah apa ini, bagaimana bisa?
Sang Kumbang nampaknya ikut menyimak dari tiang pendopo. Pak Yunus bercerita panjang lebar tentang perjalanannya berkelana menyusuri pelosok Indonesia. Bagaimana jejak kakinya menapak dan prosesnya mendokumentasikan pengalamannya. Sungguh luar biasa. Indonesia dengan keragaman manusia, budaya, dan kearifan lokalnya. Lalu, Pak Yunus juga menyampaikan, bahwa penulisan feature bisa beragam. Tak hanya barisan kata seperti artikel yang biasa kita temui di koran. Namun, bisa dikemas sedemikian rupa menjadi cerita yang non-fiktif. Seperti hadir langsung bertemu tokoh, hadir di momen yang penulisnya sampaikan. Pak Yunus menyajikan salah satu tulisan yang berkisah tentang hari wafatnya John F. Kennedy. Konon sang penulis menyampaikan sudut pandangnya saat ia berada di rumah sang penggali makam. Ternyata oh ternyata, bisa ya berita diolah menjadi cerita 'fiksi' yang begitu menarik.
Sayap kecilnya mengepak, berlanjut ke pojok Bursa Buku, wah bahaya ini. Mengapa oh mengapa, momen ini diadakan di akhir bulan. Kubeli beberapa buku dan satu gantungan kunci kayu Si Cili, penyuka timun yang gemar bermain. Entah mengapa mengingatkan pada sosok kecil yang sedang beristirahat di rumah saat ini. Setiap sore aku pulang, dalam kondisi selelah apapun saat membuka pintu, selalu ada sapaan ceria beraroma minyak telon yang menyambut, "Assalamualaikum! Ibun, aku kangen!".
Usai menghampiri beberapa buku, kumbang pun akhirnya kembali ke pendopo. Sesi selanjutnya ditutup dengan menulis berjamaah. Di sinilah kami berada merangkai kata apapun yang terbersit di pikiran. Seperti kata Pak Ahkam, seringkali pikiran tidak tertata. Bercampur dengan rasa yang entah apa namanya. Menulis ternyata membantu isi kepala ini menyusun setiap momennya.
Nah kan benar, jadi ke mana-mana, hehehe. Selamat merayakan kedirian di bawah langit mendung nan gerimis manis 
Tuuh kaan, tulisan kak Wiwit selalu asik dibacaa. Ada nuansa rasa yang beda dari kisah yang sama. Nuhuun pisaan. 😊🙏
wah nuhunn, kak Andy 😁🙏🏼