AES174: Bias dan Selera Pribadi
haegenquinston
Monday May 23 2022, 6:30 PM

Bias dan ke-subjektif-an adalah sesuatu yang sangat sangat biasa saya temui ketika sedang berada bersama kelompok teman-temanku. Bahkan, dari obrolan dan topik-topik utama yang aku suka, di baliknya ada alasan pribadi yang membedakannya dengan temanku. Misalnya temanku suka topik menggambar, sementara aku sendiri suka topik olahraga. Sudah pasti itu selera dan pilihan masing-masing (tidak ada yang paling benar). Menurutku pribadi, topik yang saya suka adalah yang paling top nya, sementara orang lain mungkin tidak berkata begitu.

Akhir-akhir ini ada sebuah band yang saya cukup gemari yaitu t****(saya sensor, anda cari tahu sendiri dari penjelasanku, cluenya yaitu, mereka adalah girl band) (rasanya aneh sekali untuk blak blak an mengenai salah satu rahasiaku di atomic essay). Sejak dahulu, mungkin aku adalah salah satu orang yang tidak mengenal genre 'tersebut' bahkan anti terhadapnya. Namun, karena ada beberapa teman-temanku yang tiba-tiba mengikuti dan menjadi penggemar grup tersebut, maka aku jadi ingin mencari tahu dan akhirnya terjun menjadi salah satu penggemarnya juga.

Saat aku sudah mengenal lebih dalam dan hafal anggota beserta lagu-lagunya, aku mengobrol kembali dengan beberapa temanku itu. Saat mengobrol tentang selera member favorit, tiba-tiba saya cukup terkejut, karena favorit dia berbeda dengan favoritku. N***** yang kusukai, ternyata menurut temanku biasa saja, sementara S*** yang ia sukai, menurutku biasa saja Hal-hal itu wajar, semua orang memiliki tipe dan kriterianya saat menilai sesuatu.

Untungnya, setelah kejadian itu, aku jadi teringat akan betapa sebuah bias dan favorit orang itu berbeda-beda, sangat jelas terlihat, mau dimanapun aku berada. Bias kadang bagus, kadang tidak. Aku tidak bisa memaksakan pemikiranku kepada pemikiran orang lain, tetapi kadang, pemikiran personal kita sendiri bisa menjadi masalah, ketika negatif dan tidak sama dengan orang lain. Contohnya, seorang guru yang bias dan tidak menyukai salah satu muridnya, otomatis akan terbawa ke karier dan profesionalismenya yang jelas-jelas tidak baik untuk dilakukan.

Ada untungnya ketika aku bisa mengerti akan pendapat orang lain (mengerti seperti apa perasaan dan sudut pandang mereka) meskipun aku sendiri mungkin tidak setuju. Bila ada kejadian, aku tidak akan menentang pernyataannya, biarpun aku tidak setuju, aku tahu pemikirannya seperti apa, dasar dan alasannya mengapa. 

Balik lagi ke topik di awal, saat ini aku masih mengikuti dan cukup 'ngefans' terhadap grup yang tadi kusebut. Di sisi lain, aku sadar, jangan-jangan industri besar sedang memanipulasi orang-orang untuk ngefans dan berfantasi terhadap sesuatu yang hanya bisa diimpikan tetapi tidak nyata, jangan sampai menjadi tergila-gila dan mengorbankan hal hal (waktu, uang, hati) kepadanya. Saat ini, aku hanya berusaha untuk mengapresiasi karya mereka dan tidak berlebih (simping) terhadap hal yang kugemari.