Kata 'bias' memiliki arti, sebuah penilaian/pandangan tak imbang terhadap suatu benda, pribadi, ataupun kelompok ketimbang dengan hal lainnya, yang terasa tidak adil. Bias ini sering sekali aku/kita hadapi dan temui di dunia ini. Ada yang baik, seimbang, teratur/terbatas, ada juga yang keterlaluan sampai tidak baik, outputnya bisa sampai merugikan orang.
Sesuatu hal yang kita pelajari, harus bisa dipandang dari 2 sisi. Terutama hal yang punya pro kontra contohnya maltruisme dan feminisme, kapitalisme dan komunisme, dan lain lain. Bahkan ronaldo/messi pun bisa punya pro kontra-nya tersendiri, banyak pendukungnya yang bias terhadap 1 sisi.
Aku pernah mendengar pepatah dari Kak Leo, jika kita sudah mempelajari sebuah hal atau topik, kita harus belajar untuk melepasnya dan menjadikannya bagian kehidupan kita. Bukan menjadi ekstremis yang tidak melepas-lepaskannya, menjadikan hal itu pusat kehidupannya, dan tidak bisa lepas atas keterikatan yg ada.
Jadi menurut Suhu Leo, setelah melepaskan hal tersebut, kita belajar sisi lainnya yang kontradiktif dengan apa yang kita pelajari, alias sisi lainnya. Setelah mempelajari sisi lainnya dan melepaskannya juga, akhirnya kita perlu menentukan garis tengah dan titik dimana kita berdiri. Hal tersebut, merupakan pilihan dan penentuan kita sendiri, bagaimana gaya kita bisa diimplementasikan ke campuran 2 hal yang kontradiktif? Orang lain pasti punya penilaian dan jalurnya masing-masing, beda dengan kita. Aku pun beda dengan Suhu Leo.
Akhirnya kita bisa menjembatani kedua hal yang kontradiktif itu, dengan penilaian dan anggapan kita sendiri yang 'seimbang' dalam artian, sudah terstruktur karena tidak mengandalkan hanya 1 sudut pandang. Yang menarik adalah, kita bisa membuat titiknya lebih pasti, terstruktur, non bias dengan menambahkan faktor lain yang kontradiktif, contohnya fasisme, imperialisme. Supaya lebih menarik, pusing. Tetapi titik tengah yang kita dapatkan akan lebih faktual dan menjadi jembatan besar.
Bias yang kualami akhir-akhir ini adalah, bias terhadap faktor menilai lagu Twice dan Blackpink. Menurutku kedua lagu tersebut punya personality dan plus minus tersendiri. Saya bisa menilai mereka bareng karena kebetulan peluncurannya di bulan yang sama. Namun yang membuatku bias terhadap 1 sisi adalah, karena aku cenderung suka gaya musik Twice daripada Blackpink, maka aku memilihnya lebih unggul. Di sisi lain, aku sempat mengunggulkan aespa dibandingkan Twice saat peluncuran mereka 2 bulan lalu. Saat ini tidak lagi. Terbukti bias-ku tergantung suasana hati, perasaan, dan peluncuran terbaru.