AES01 Proses Kreatif
jeanindya
Sunday August 22 2021, 10:35 PM
AES01 Proses Kreatif

Beberapa waktu lalu, komunitas baru saya dengan 2 orang teman - bernama Cerita Ibu (CI) - menjajal satu konsep baru dalam kegiatan kami. Kalau biasanya kegiatan CI hanya read aloud dan online bersama anak-anak saja, kali ini ada tantangannya. Challenge, begitu kami menyebutnya. Challenge ini sifatnya opsional, tapi ada reward untuk 1 pemenang. Challenge kali ini adalah melengkapi gambar, dengan tema 'Menjaga Kesehatan', sesuai topik read aloud yang kami lakukan. 

Singkat cerita, ada 6 ortu yang menyetorkan karya anak-anaknya pada kami. Dan salah satu dari mereka lalu dipilih menjadi pemenang. Alasannya, karena gambar anak bernama Ayra tersebut dinilai sangat ekspresif - dan berbeda dari gambar lainnya. 

Saya tersenyum melihat 2 gambar di depan saya. Satu gambar saya lihat di instagram, dan di sebelahnya, tangan saya sedang memegang sebuah gambar lain. "Gambarnya beda sih, tapi sepertinya ada sesuatu yg mirip. Apanya ya?" begitu saya membatin. 

Semakin lekat kedua gambar itu saya lihat, semakin saya melihat kedua gambar ini berbeda. Tapi ekspresi, proses kreasi dan orisinalitasnya sangat terasa sekali. Saya bisa merasakan ada begitu banyak hal yang ingin diceritakan oleh kedua pelukis cilik ini, di tengah keterbatasan mereka menuangkannya dalam bahasa gambar. 

Proses mengekspresikan diri lewat media 2D ini bukan hal yang saya kuasai - malah cenderung sy hindari. Doktrin dan label sepertinya begitu membekas  sehingga saya sudah melabeli diri sebagai orang yg tidak bisa menggambar atau ngga kreatif. Dan ada ketakutan hal ini ditiru, tertanam, atau berulang pada anak2 sy. 

Di rumah, saya berusaha terus mengapresiasi gambar yang Una buat. Sedihnya, adalah karena dia harus belajar / berkenalan dengan keterampilan ini secara otodidak. Karena saya sangat terbatas dan kembali ngga pede saat dia minta diajari menggambar sesuatu atau menggambar bareng. Obyek yang saya gambar terbatas - dan mudah ditebak, karena bentuknya sederhana. Seperti awan, bunga, atau matahari. Padahal saat itu sy ingin bs membantu Una menggambar obyek kuda poni seperti yang ia inginkan. Tapi seringnya, kuda poni buatan saya selalu berakhir dengan bentuk obyek hewan dengan ukuran badan yang tidak proporsional. 

Alhasil Una belajar semua sendiri, dan sy hanya memberikan sisi saja. Seperti, bentuk badan yang terlalu kurus sehingga kurang proporsional, baju yanb masih bs diberi motif, dsb. Pada prosesnya sering juga dia bete. Karena mungkin dia juga mikir, ini bunda kl disuruh bikin jg blm tentu bisa, tp nyuruh2 orang.

Kalau lagi menggambar bareng sepupunya (usia 8,5 th), kadang sy (lagi2 minder), karena gambarnya mulai detail. Baik dari segi bentuk maupun topik kedetailan unsur2 pelengkap dalam cerita. Sy berusaha sebisa mungkin untuk tidak membandingkan secara verbal. Sebaliknya, sy sampaikan hal apa yang paling sy sukai dari gambarnya. 

Sekarang, selain momen bebas menggambar (di jadwal rutin harian), Una juga punya tugas mengamati lalu menggambar satu obyek dengan detail tiap hari Jumat. Baru 2x berjalan, tapi sy melihat, Una lebih paham bila menggambar roda mobil ternyata tidak empat2nya digambarkan, tergantung dari sisi mana dia melihat.

Saya masih perlu belajar tentang bagaimana proses kreasi seseorang dapat tumbuh dan terasah. Berlatih, dengan berbagai metode, mencoba eksplorasi, dan yang terpenting: apresiasi yang terarah. Setidaknya hal2 tersebut masih bisa saya coba terapkan di rumah. 

Oyah 1 lagi, kebiasaan menggambar dengan spidol. Ini juga masih terus dilakukan, dan memang dapat membantu anak lebih percaya diri dengsn apa yang dituangkan. Meski itu kadsng dicibir atau dianggap kurang baik oleh odang lain. Kebiasaan dsn pembiasaan ini Una dapatkan di 3 tahun pertamanya bersekolah. Dan saya meyakini hal ini ikut membentuk proses kreatif dalm dirinya. 

Buktinya? 

Saat ingin menggambar pemandangan, dia tidak menggambar 2 gunung, 1 matahari di tengah, dan sawah yang menghampar.

You May Also Like