Tadinya saya mau menulis tentang realita dan relasi. Tapi apa daya jemari dan kepala rasanya kok tidak sanggup. Akhirnya saya beralih menceritakan sebuah lagu saja deh. Lagu yang saya ceritakan ini sangat menarik. Kalau boleh bilang, ini lagu yang kayanya tuh Smipa banget. Smipa yang selalu berupaya mengajak peserta didik bahkan kakak fasilitatornya untuk menemukan bintangnya atau jati dirinya.
Lagu yang mau saya bahas adalah lagunya Green Day yang berjudul Minority. Sebagaimana lagu punk pada umumnya, ada nuansa pemberontakan dan anti otoritas yang kuat di lagu ini. Tapi saya tidak ingin terlalu menangkap nuansa itu. Itu nuansa yang sangat di permukaan bagi saya.
Saya ingin mengambil kesimpulan dini yang bisa jadi serampangan. Anti otoritas atau pemberontakan hanyalah konsekuensi logis dari menjadi diri sendiri. Bahwa fondasi untuk menjadi anti otoritas itu ya perlu jadi seperti anak-anak Smipa. Atau bisa juga dibalik, anak-anak Smipa (dengan dosis tertentu dan terukur) bisa jadi memerlukan semangat anti otoritas. Mudah-mudahan tulisan ini bukan jadi alasan temen-temen SD sampai KPB jadi anti Kakak ya.
Kalau kita mau refleksi, apa sih bentuk minoritas yang paling minoritas? Apa kelompok paling kecil yang bisa disebut kelompok paling minoritas? Jika kita taat pada definisi bahwa minoritas itu kelompok yang lebih kecil daripada kelompok lainnya, maka minoritas paling minoritas adalah kelompok yang hanya terdiri dari satu orang. Kelompok, tapi terdiri dari satu orang. Terdengar oksimoron. Tapi kalau kita ingat pelajaran matematika, di sana bahkan ada yang namanya himpunan kosong. Himpunan, tapi tidak ada anggotanya.
Lalu Kenapa sih harus jadi diri sendiri? Sedikit potongan lirik di bawah ini mungkin bisa jadi pemantik pikiran kita.
“
Step out of the line
Like a sheep runs from the herd
Marching out of time
to my own beat now
the only way I do
“
Dari lirik lagu itu, kita perlu jadi diri sendiri supaya tidak seperti kawanan domba (herd of sheep). Taukah kamu, kalau domba hanya akan berakhir di dua tempat? Domba hanya akan berakhir di tempat ekstraksi bulu atau rumah jagal. Orang yang terlalu mengikuti kawanan sampai lupa jadi diri sendiri mungkin juga akan berakhir di rumah jagal. Tentu dalam versi yang lebih manusiawi seperti kantor, pabrik, bahkan sekolah. Raga kita bisa jadi tidak mati di rumah jagal itu, tapi jiwa kita yang mati. Diri kita yang benar-benar unik yang mati.