Ini adalah malam tersulit bagi saya untuk menulis. Sudah hampir 3 jam memandangi layar monitor tanpa ada terlintas sedikitpun ide. 99% pikiran saya hanya membiarkan hari ini tanpa tulisan sama sekali. Tapi sangat sulit untuk menyerah begitu saja. Apalagi setelah beberapa hari terakhir ngobrol soal komitmen, determinasi dan sebagainya, sementara saya sendiri saat ini memiliki masalah besar untuk memegang hal-hal itu. Kontradiktif sekali ya?
Saya baru saja menyampaikan berita ke Kano dan sepertinya dia tidak menyukainya karena ada hal-hal yang bagi dia tidak nyaman. Nah sampai di sini saya mulai berpikir seandainya saya adalah dirinya, bagaimana reaksi saya? Atau dalam bahasa Inggrisnya putting myself in his shoes. Hmm.. Mungkin saya akan bereaksi serupa.
Baiklah, sekarang saya akan berpikir tentang ketakutan yang biasa saya hadapi. Yang sederhana saja, misalnya takut akan ketinggian. Ini saya sadari betul, butuh waktu lama untuk bisa menghadapi rasa takut ini. Saya ingat ada 1 tempat waktu saya di Hawaii yang berusaha dihindari, yaitu struktur tangga ke tempat parkir. Saya sangat ketakutan karena tempatnya tinggi dan terbuka. Lutut saya kehilangan tenaga begitu mengambil 1 langkah. Butuh waktu berbulan-bulan untuk memberanikan diri. Saya juga ingat ketika dulu bersama 2 orang sahabat mendaki mahkota patung Liberty di New York. Saya punya videonya dimana 2 sahabat saya berusaha memberi semangat terus mendorong saya hingga ke puncak. Jawabannya 1 kata: Mencoba!
Tahukah sebuah keinginan saya yang paling mustahil yang ingin saya lakukan untuk menantang diri sendiri? Saya tahu rasa takut ketinggian ini masih menghantui. Sudah banyak berkurang kok, tapi ketakutan itu masih ada. Tahun lalu ketika saya mendaki gedung tinggi terkenal di seattle, yaitu Space Needle, sepertinya sudah tidak seburuk dulu-dulu. Rasa ngeri masih ada tapi saya bisa menanggulanginya. Nah saya tahu sudah ada kemajuan dalam hal ini, jadi saya akan menantang diri sesuatu yang mustahil tapi ingin saya lakukan sebelum saat saya menutup mata di akhir kehidupan. Apa itu? Terjun payung! Hahahaha..
Kok nekad? Hahaha.. ini memang ide gila. Tapi saya tahu rasa takut akan ketinggian sudah jauh berkurang. Misalnya eskalator di Dupont Circle di Washington DC. Pertama kali saya mengunjungi tempat itu, lebih dari 20 tahun lalu saya keluar keringat dingin. Menurut saya ini adalah eskalator tertinggi yang pernah saya hadapi. Ketika berada di atas memasuki lorong menuju subway, ujungnya hampir tidak terlihat karena begitu curam. Terakhir saya ke sana beberapa tahun lalu bersama Nina dan Kano, saya sudah tidak terlalu takut lagi. Jadi itu bukti bahwa rasa takut akan ketinggian sudah jauh berkurang. Nah mangkanya saya akan menantang diri dengan sebuah kegiatan yang hampir tidak masuk akal. Nah mudah-mudahan saja kesempatan itu tiba sebelum saya nanti harus pulang kampung hehehe..
Foto credit: skydivesantabarbara.com
Wow, bucket listnya hebat amat Joe. 🏼
Namanya juga ide yang "mustahil" , Kak. hahaha.. tapi saya sepertinya serius. Tempatyang paling dekat sekitar 50km dari kota saya. Mau ngajak Kano kalo dia berminat maka akan nyoba berdua hehehehe..
Keren bucket listnya Pak Joe, semoga tercapai. Nah, kalau pulang ke Indonesia, barangkali mau coba naik paralayang? Ada di daerah Cililin dekat Bandung, hehe
Hahaha.. paling juga berani skydiving yang tandem.. sendirian mah engga lah. Paralayang ada yang tandem?
Wiiiihhhh 880 aja nih Pak Joe.... Keren... Kalau Pak Joe takut ketinggian, saya malah takut kedalaman, Pak... sampai sekarang saya belum tau harus gimana cara mengatasinya... Lihat air aja udah gemeter duluan, padahal cuma di kolam renang anak-anak... (T_T)
Gak kerasa, Kak. Hahaha.. Rasa takut memang sangat ilogical, Saya berjuang mengalahkan rasa takut selama puluhan tahun. Anehnya dulu waktu kecil saya seperti monyet naik-naik pohon tanpa rasa takut. Ga ngerti kapan mulai muncul. Satu-satunya cara yang selama ini saya berhasil lakukan adalah nekad dan menantang diri.