Jika ditanya ingin kado apa yang kujawab pasti terdengar menyebalkan antara tidak tahu, terserah atau bebas karena kesenangan saat membuka hadiah hanya sebentar saja tak lama akan pudar seperti hilang tidak berbekas. Bukannya aku tidak tahu terima kasih tapi bukan hadiahnya yang membuat senang tapi rasa pedulinya, ah dia masih mengingatku keberadaanku masih berarti.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya tahun ini aku ingin memberi hadiah kecil untuk diriku sendiri. Rasanya tahun ini aku pantas mendapat sesuatu yang berharga untuk dikenang. Aku membeli 7 buah buku. Giliran self-reward malah berujung impulsive buying dengan alasan aku tidak perlu menghabiskan waktu untuk mencari buku lain saat buku yang lain sudah selesai dibaca. Aku memang pandai membuat alasan. Kacaunya ternyata ada 1 buku yang masih pre-order alias belum terbit jadi aku harus menunggu 1 buku itu terbit baru dikirim semua. Kesenangan yang tertunda akibat lalai membaca akibat tergesa-gesa akibat impulsive buying. Ya sudah mau bagaimana lagi.
Akhirnya buku-buku tersebut datang setelah seklian lama. Membuka paket dengan girang aku mengambil acak salah satu buku itu. Buku terpilih pilihan tangan kanan adalah buku berjudul “Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring”. Testimoniku setelah membaca bukunya adalah, buku yang harus dirasakan bukan untuk dibaca. Sekian. Aku suka buku itu 10/10. Membacanya membuatku terinspirasi. Banyak insight yang sama sekali tidak berhubungan dengan ide-ideku tapi membuatkulebih mudah mengalirkan isi cerita. Kalau ada yang bilang membaca mengawali menulis aku setuju sekali. Seperti menemukan sisi lain dari bentuk tiga dimensi. Menarik dan melengkapi proses menulis.
Sejauh ini, buku adalah hadiah yang paling berharga. Tidak sabar aku membaca keenam buku lainnya.