AES 129 Sarang Semut
leoamurist
Sunday October 3 2021, 9:51 PM
AES 129 Sarang Semut

Melihat seorang yang membawa kotak transparan, isinya sarang semut! Bukan kue sarang semut, beneran sarang semut. Sepertinya kotak transparan yang terbuat dari kaca plastik itu diisi tanah tertentu, yang membuat semut menjadikannya sarang. Kita jadi bisa melihat jalur dan ruang dari koloni semut yang bersarang di situ.

Hmm… sarang semut, ini istilahnya bener kan ya? Kalau gak sesuai nanti malah bikin atensi fokus ke diksi daripada narasi soalnya. Heuheuheu…

Balik lagi ke sarang semut itu, rasanya seru melihat kehidupan kecil dalam kotak kaca. Seperti berkuasa atas satu semesta, karena mampu melihatnya. Jadi kepikiran, kalau saya adalah semutnya. Apakah menjadi masalah ketika tahu kalau semesta yang dihuninya hanyalah rekayasa seseorang yang merasa berkuasa atas segala padahal hanya melihat doang? Bisa sih mengoncang-goncangkan kotak kalau mau reset.

Sekalipun isi sarang semut itu hancur karena goncangan yang dibuat pemilik kotak, tidak butuh waktu lama koloni semut itu membuat sarang yang baru di kotak yang sama itu. Dengan jalur baru yang polanya sama, dengan ruang baru yang formatnya sama. Apakah semut itu jadi menemukan makna? Seperti Sisifus yang mendorong batu ke puncak lalu menggelindingkannya.

Lalu kalau saya jadi semut yang tercerahkan, misalnya. Mampu menyadari bahkan melihat kalau dirinya dan koloninya hanyalah permainan dalam kotak kaca berisi tanah dalam suatu proses rekayasa. Apakah saya seketika menjadi manusia? Seperti tokoh Ant-Man. Jadi dia adalah Ant atau dia adalah Man sih sebenernya? Identitas ganda bukannya susah ya? Satu aja sudah kerepotan.

Tidak.

Semut tetap semut. Manusia pemilik kotak tetap manusia pemilik kotak. Sarang tetap sarang. Koloni tetap koloni. Rekayasa ya rekayasa. Nyata ya nyata. Semuanya sedemikian adanya sehingga seadanya demikian. Kesadaran tidak mengubah semut menjadi manusia, juga tidak mengubah manusia menjadi semut. Hanya membuka indera yang lebih luas saja. Kemudian tetap bertindak berperan berfungsi sebagaimana biasanya.

Lalu, kalau saya adalah manusianya. Setelah kepikiran hal ini barusan, mulai melihat-lihat ke sekeliling juga. Jangan-jangan, saya pun berada di dalam kotak kaca dalam program rekayasa. Membuat sarang dan beraktivitas layaknya manusia, sambil diperhatikan dan diamati oleh dia yang memiliki kotak kaca tempat saya bersarang ini. Setelah mengetahui hal  ini, semuanya tetap berjalan seperti biasanya.

Bedanya apa ya..?