"Duh kenyang sekali." Kata saya sambil membersihkan tangan dari minyak setelah makan malam. Malam ini menunya ayam goreng mbak Esih, sedikit sambal yang terkenal itu, telur dadar ibu Ning yang berjualan di dekat kampus istri saya, tumis bayam, dan sedikit nasi.
"Punya yang manis-manis?" Tanya saya. Saya selalu ingin yang manis-manis sesudah makan. Katanya keinginan kita akan sesuatu yang manis setelah makan karena suatu kombinasi kimiawi di otak ditambah dengan kebiasaan serta faktor fisiologis yang diakibatkan karena turunnya gula darah ketika energi tubuh dibutuhkan untuk mencerna. Dengan mengkonsumsi suatu yang manis, dopamin dan serotonin dilepaskan oleh tubuh yang membuat kita feel good sehingga tingkah laku seperti ini terus dilakukan dan menjadi kebiasaan. Kebiasaan menikmati pencuci mulut ditrigger oleh kebiasaan ini.
Tadinya saya pikir keinginan saya akan sesuatu yang manis itu karena indera perasa saya terlalu banyak bersentuhan dengan MSG. Sesuatu yang gurih bagi saya selalu membuat haus dan sepertinya sesuatu yang manis dapat menjadi penetralisir, sama seperti minum teh pahit sesudah menikmati dim sum atau Chinese food. Ternyata yang saya sangka itu salah.
"Ga ada Jo, paling kue kering. Enak kalo ada martabak terang bulan." Kata Nina
"Hahaha... martabak manis kaya gitu gulanya banyak banget, belum susu kental manis dan margarinnya. Makan 1 potong gua harus lari berapa kilometer? Nanti deh gua bikin sendiri yang tipis, less sugar, susu sama butternya dikit aja. Bisa makan tanpa ngerasa terlalu berdosa." Jawab saya
Penasaran, saya langsung melihat berapa kalori sepotong martabak manis. Dikatakan sekitar 270, tapi tidak diberitahu berapa gram berat sepotong martabak itu. Iseng saya buka aplikasi yang biasa digunakan untuk food consumption diary setiap hari (iya, saya mencatat makan apa saja dan berapa lama saya olahraga hehehehe), disana ada beberapa entri yang mengatakan besarnya 240, 396 dan 265. Mencurigakan, sebab satu beratnya 100 gram, yang lain 98.3 gram dan satu lagi hanya mengatakan 1 piece. Seram! Karena untuk membakar 240 kalori untuk orang seusia saya, butuh waktu antara 15 hingga 20 menit dengan kecepatan 9,6km/jam! Artinya saya harus berlari sejauh 3km dalam waktu 20 menit! Tidak sepadan!
"Mending ga makan martabak kalo harus lari dengan kecepatan hampir 10km/jam selama 20 menit, mah!" Kata saya.
Seketika itu juga keinginan saya akan martabak langsung pudar. Kesengsaraan yang diakibatkan oleh kenikmatan beberapa detik menikmati martabak sepertinya sama sekali tidak sepadan! Hidup memang tidak adil! Hahahaha
Martabak manis atau martabak terang bulan memang sangat terkenal bahkan dikalangan para turis yang mengunjungi Indonesia. Coba saja masuk ke youtube dan cari unggahan tentang orang asing untuk pertama kalinya menikmati martabak. Banyak sekali! Bahkan saya tahu dengan pasti orang Indonesia di rantau itu berusaha mencari martabak karena kangen! Di Las Vegas ada orang Indonesia yang punya bisnis menyediakan jasa membuat dan mengirim martabak ke seluruh pelosok Amerika! Saya dan sahabat saya juga tidak jarang mengemudi ke kota Aurora dekat Denver lebih dari 3 jam pulang pergi hanya sekedar menjemput martabak. Di sana ada orang Bandung yang juga punya usaha membuat martabak terang bulan. Demi makan martabak, kami berdua sering tidak makan siang atau makan malam dengan alasan di atas, bahwa kalori martabak dan kandungan gula serta lemaknya sangat amat tinggi. Bagi kami berdua yang sudah mulai waspada agar tidak memiliki masalah kesehatan seperti kolesterol, gula darah dan lain-lain, mengkonsumsi makanan ajaib ini harus dibatasi. Untungnya saya selalu mengkaitkan dengan kesengsaraan membakar kalori sebanyak itu, sehingga keinginan saya seringkali diurungkan.
Kalau teman-teman membeli martabak manis dan memperhatikan cara mereka membuatnya, sangat mengerikan. Sebelum adonan matang sudah ditaburi gula pasir lalu sesudah matang dan akan diberi topping yang kita pilih, tukang martabak memberi entah berapa gram margarine, banyak sekali!!! Lalu diberi kacang, coklat dan keju kemudian dikucuri dengan banyak sekali susu kental manis. Dan sebelum dipotong-potong dimasukkan ke dalam kotak diberi margarine lagi atau butter. Coba perhatikan jari-jari kita sesudah makan martabak ini, penuh minyak. Memang menikmati makanan luar biasa ini sama sekali tidak sehat! Dan kebanyakan yang tidak sehat itu seringkali sangat nikmat! Hidup memang tidak adil. Sama seperti tulisannya mas @bangkit. Hahahaha..
Foto credit: cianjur.viva.co.id