Remaja akan merasakan dirinya yang lain, dalam dirinya sendiri. Bahkan rasanya seperti merasakan orang lain, yang adalah dirinya sendiri. Seperti dirinya sendiri yang lain. Bukan hanya seperti ada dua kepribadian dalam satu badan, melainkan sampai kepada merasakan ada dua pribadi dalam satu badan. Bahkan, bisa seperti merasakan ada dua badan. Ini sangat membingungkan memang, karena ini hanya bisa dirasakan di fase remaja dengan syarat dirinya dikelilingi orang dewasa yang suportif.
Selama fase peralihan ini, yang kita sebut dengan fase remaja, mereka masuk kepada kedalaman dirinya. Menemukan kapasitas dan kerentanan diri. Mereka bisa menjadi apa saja, hanya tidak bisa menjadi semuanya sekaligus. Mereka merasa jagoan dan kuat, sambil merasa putus asa dan tidak berdaya. Paling tahu sekaligus tidak tahu apa-apa; ia mengetahui apa yang diketahuinya, mengetahui apa yang tidak diketahuinya. Tantangannya mengetahui soal ketidak tahuannya akan hal yang tidak diketahuinya. Bagaimana menggeser status ketidak tahuan akan ketidak tahuan menjadi pengetahuan akan ketidak tahuan itu.
Caranya, salah satu yang sangat efektif, adalah dengan membuat gambaran diri yang baru. Baru bukan berarti tidak pernah ada sebelumnya, justru karena sudah ada yang terdahulu makanya bisa mengadakan yang terkini. Esensi dari hal ini adalah menemukan orientasi yang jelas, kemana diri (akan) menjadi. Penemuan ini biasanya terjadi di momen yang sekelebat, sekitar lima detik pertama. Kemudian hilang dan tidak jarang muncul lagi di situasi yang berbeda. Tempat terbaik untuk memulai penyadaran ini adalah tempat dimana dirinya bisa berkonsentrasi, untuk membuat gambaran dirinya yang baru itu.