AES#50 Diskusi Kemerdekaan
Natasha Setyamukti
Friday August 20 2021, 8:27 AM
AES#50 Diskusi Kemerdekaan

Hari ini seperti biasa, K12 mengadakan diskusi mengenai satu topik yang sudah ditentukan sehari sebelumnya. Topik kami hari ini adalah mengenai kemerdekaan, apakah kita sudah benar-benar merdeka saat ini? Diskusi ini dibuka oleh pendapat pertama Denzel yaitu kita masih belum merdeka untuk beropini. Hal itu membuatku ingin turu berpendapat, karena betul bahwa sampai sekarang, kita masih belum merdeka untuk beropini. Seringkali, apabila kita beropini, dibawa-bawa ke suku, ras dan agama yang padahal opininya tidak ada kaitannya dengan hal tersebut. Dan kalau suku, ras dan agama orang yang berpendapat berbeda dengan saya, seringkali opini tersebut disalahkan.

Selain itu kemerdekaan kita sebagai warga negara juga masih sangat rendah, karena masih banyak masyarakat, terutama perempuan yang tidak merdeka. Perempuan masih dipandang sebagai 'objek" yang hanya bisa digunakan dan tidak punya hak. Walaupun tidak semuanya, namun menurutku poin ini masih perlu diangkat dan diperjuangkan. Surat kabar dan media massa yang menjadi asupan masyarakat Indonesia sudah banyak yang secara eksplisit menunjukkan bagaimana tubuh kita belum sepenuhnya merdeka. Tak jarang kita dengan berita tentang kekerasan dan pelecehan, atau bagaimana tubuh kita sendiri masih terbelenggu oleh stigma dan tuntutan masyarakat yang ada. Tubuh kita berhak untuk merdeka, tidak memandang laki-laki atau perempuan. Tiap-tiap dari kita berhak untuk memiliki pilihan dan kontrol penuh atas tubuh kita sendiri.

Kita sendiri masih dijajah oleh orang lain atau bahkan oleh diri kita sendiri. Kita seringkali tidak berani menunjukan jadi diri kita atau keaslian kita karena takut dijudge orang lain dan sebagainya. Yang akhirnya mengarah pada ketidakmerdekaan. Padahal sebagai individu kita seharusnya bisa merdeka, karena menurut kami, kemerdekaan tidak bisa diukur dari sebuah negara atau komunitas, tapi diukur dari sebuah individu.Karena sebagai contohnya, kita sudah menganggap Indonesia merdeka, tapi kenyataannya masih banyak orang sebagai individu yang mengaku tidak merdeka.

Selain itu kami juga sempat berdiskusi mengenai penggunaan sosial media. Tadi juga ada yang sempat menyebutkan bahwa ia merasa dalam penggunaan sosial media sebenarnya kita sudah bebas, bebas mengatakan dan menyampaikan apapun. Namun menurutku sendiri, kita belum bebas sepenuhnya dalam menggunakan sosial media. Banyak sekali kasus dimana orang dibawa ke pengadilan karena menggunakan sosial media. Salah satu kasus yang paling sering diperbincangkan adalah saat ada salah satu akun yang comment suatu hal yang berbeda 180 derajat dari konten yang dipost. Disini dia hanya menyampaikan opininya, namun karena berbeda 180 derajat dengan konten, berbeda suku ras dan agama misalnya, akhirnya orang ini dilaporkan dengan alasan UU ITE, HAM dan lain sebagainya yang menurutku tidak masuk akal. Katanya bebas berekspresi di sosial media kok masih banyak aja kasus yang seperti ini? Ini berti mereka belum memiliki kebebasan.

Ir.Soekarno pernah mengatakan seperti ini "perjuangan saya lebih mudah karena saya melawan penjajah, perjuangan kalian lebih sulit karena melawan bangsa sendiri". Hal ini memang benar. Sungguh sulit untuk melawan negara dan bangsa sendiri.

Setelah diskusi yang cukup panjang, salah satu dari kami kembali menyampaikan bahwa yang kurang itu etika bukan dari kebebasan kita dlaam bersosial media. Memang benar, kita masih kurang etika, mindset dan sudut pandang yang luas, sehingga apapun yang ada yang berbeda dengan pemikiran kita, seringkali kita salahkan dan tidak bisa terima. Hal ini menurutku perlu sekali untuk dipelajari dan dikembangkan oleh masyarakat Indonesia, karena kita punya kebudayaan yang berbeda-beda dan kita perlu punya sudut pandang yang luas untuk menanggapi sesuatu.

Dari diskusi ini kami menyimpulkan banyak hal, mulai dari kemerdekaan itu tidak bisa diukur dari sebuah bangsa, namun perlu diukur dari sebuah individu. Kemudian, kebebasan kita dibatasi oleh kemerdekaan orang lain, maka dari itu kita tidak bisa semena-mena dalam melakukan banyak hal. Terakhir, kemerdekaan itu perlu dipertahankan bukan diusahakan. Memang sulit untuk bisa mempertahankan sebuah kemerdekaan, namun hal ini akan membawa dampak lebih besar bagi kita.