"Dad, will you stop by my work to pick up pizza for Mommy? I want her to try my pizza. At 5 PM?" Kata Kano tadi siang ketika saya mengantar dia ke tempat kerja.
"We'll see if I can." Kata saya.
Kano sejak beberapa minggu terakhir memang menjadi penangung jawab bagian pizza. Dia membuat puluhan pizza setiap hari untuk makan malam. Dining hall tempat dia bekerja mulai buka untuk makan malam pukul 5 sore. Siangnya sebelum bagian pizza beroperasi dia seringkali membantu bagian-bagian lain. Hari ini sesudah mengantar Kano saya mampir sebentar ke tempat kerjanya dan ngobrol dengan general manager sambil makan siang.
"Jadi kalo siang Kano bantuin Bistro?" Tanya saya ke Mas Aris, General manager di Braiden.
"Engga juga sih, dia senang bantu di mana-mana yang butuh bantuan. Ga usah disuruh." katanya.
"Saya sebetulnya tidak menyangka Kano akan seperti itu. Dia khan anak Amerika. Biasanya anak Amerika itu Kalau bagiannya sudah beres ya diem aja, ga suka bantu bagian lain. Kano beda." Katanya lagi.
"Hahaha.. I guess we are raising him well." Kata saya. Ada rasa bangga yang membuncah di dalam dada ini. Memang Kano lahir dan lebih lama hidup di Amerika daripada di Indonesia, tapi dia mendapat pendidikan awal yang baik di Indonesia dan orang tuanya juga tidak mendidik dengan cara Amerika. Kano selalu meyakinkan saya bahwa dia punya work ethic yang terpuji dan dia sudah buktikan. Terbukti dalam 2 bulan saja dia sudah dapat promosi sementara ada beberapa rekan kerjanya, bahkan ada yang lebih dahulu mulai bekerja daripada dia masih tetap di posisi yang sama. Ada sedikit rasa "tertentu" memang karena bapaknya sahabat baik general manager dimana dia bekerja, tapi usulan untuk promosi tidak datang dari general manager. Jadi saya bisa melihat bahwa Kano menonjol. Ini membuat saya terharu.
Hari ini hingga malam, sekarang hampir pukul 11 malam, saya sebetulnya belum punya ide untuk menulis. Tapi ketika saya membuka aplikasi blog tempat saya biasa menulis, ada sebuah pertanyaan yang membuat saya tertarik, kurang lebih pertanyaannya seperti ini: "What brings tears to your eyes?" Hmm... cocok pikir saya, karena tadi siang sambil makan saya membicarakan prestasi Kano sehingga saya terharu. Ini salah satu jawabannya.
Jawaban yang pertama, yang membuat saya meneteskan air mata terharu adalah orang-orang yang saya cintai. Merenung dan membayangkan kembali sejak awal kehidupan Kano hingga sekarang yang sudah membuat saya bangga dan bahagia, tidak dapat membendung rasa haru. Itu salah satu jawaban dari pertanyaan di atas tadi.
Juga selama lebih dari 1 minggu saya merawat Nina yang sedang melalui masa penyembuhan paska operasi lutut. Memang tidak mudah, saya harus hadir sejak dia mulai persiapan, pre-op, hingga saat menjelang operasi, saya selalu ada di sana, dan sekarang saya setia membantu apa saja yang dia butuhkan. Ada untungnya saya rehat dari pekerjaan sehingga konsentrasi saya bisa dialihkan sepenuhnya pada perawatan Nina. Nah apa yang saya rasakan selama waktu-waktu terakhir ini? Kedekatan, kebersamaan, dan perhatian akan satu sama lain yang sangat luar biasa. Entah berapa ratus kali Nina mengucapkan terima kasih setiap kali saya membantu dia, dan berapa ratus kali saya merasa bahagia bisa membantu, merawat dan menjaga orang yang saya cintai. Sederhana sekali dan sama sekali tidak ada rasa terpaksa, semuanya itu mengalir karena kasih sayang. Mencuci, menyiapkan makanan, membantu bangkit, menjaga ketika naik turun tangga, mendorong kursi roda bahkan membantu membalut luka merupakan upaya penyampaian rasa kasih. Bukankah ini luar biasa? Apakah tidak mengharukan?
Yang berikutnya, musik dan lagu. Ini dapat membuat saya begitu larut dalam keharuan. Alunan suara dan bunyi alat-lat musik yang sangat harmonis dapat membius saya dan menerbangkan semua perasaan dalam kalbu ke alam yang dapat membuat saya melayang dan terlepas dari segala ikatan duniawi. Ya, begitu hebatnya lagu dan musik dapat melepaskan saya dari segala bentuk keterikatan. Air mata hanyalah sebentuk reaksi fisik terhadap keindahan ini.
Yang terakhir adalah kisah atau cerita. Siapa yang tidak menyukai kisah dan cerita tentang kehidupan? Ada di novel, film atau misalnya coba saja lihat sajian-sajian lomba talenta dan kreatifitas di televisi, disamping menunjukkan kebolehan yang dia miliki, para pesertanya selalu membawa serta kisah kehidupan. Kodi Lee, misalnya, pemenang American Got Talent beberapa tahun yang lalu membawa kisah perjuangan seorang autistik dan buta tapi memilki suara yang sangat indah dan kehebatan dia bermain piano, lalu dapat memikat jutaan pemirsa, atau Iam Tongi seorang pria muda yang juga juara pencarian bakat di program televisi serupa, bercerita dalam bentuk nyanyiannya tentang masa kecil hingga kini giliran dia berbakti pada ayahnya yang dulu selalu menyertai dia ketika ketakutan akan monster dimalam hari. Coba lihat sebagian lirik dari lagu Mosters yang dia nyanyikan:
I'm not your son, you're not my father
We're just two grown men saying goodbye
No need to forgive, no need to forget
I know your mistakes and you know mine
And while you're sleeping I'll try to make you proud
So, Daddy, won't you just close your eyes?
Don't be afraid, it's my turn
To chase the monsters away
Tanpa sadar saya kemudian membayangkan ayah saya yang sudah renta dan seolah-olah saya berkata pada beliau:
Dan ketika engkau tertidur, saya akan berusaha membuatmu bangga. Jadi, Ayah, pejamkanlah saja matamu
Janganlah engkau khawatir. Sekarang adalah giliran saya
Mengusir monsters (kekhawatiran) pergi
Dan sayapun meneteskan air mata haru.
Foto credit: drjudithorloff.com