AES129 Menahan Diri
Sanya
Thursday February 27 2025, 7:25 PM
AES129 Menahan Diri

Lagi, masih tentang berpuasa. Meneruskan refleksi ramadhan kemarin, pulang ke rumah jalanan sekitar penuh dengan berbagai macam penjual makanan dadakan yang muncul hanya saat bulan ramadhan. Kanan kiri jalan sudah tak terhitung berapa banyak penjual makanan yang memenuhi jalan, dari depan ruko sampai beberapa lapis pedagang berjejer berhimpitan dengan pembeli. Suasana sangat ramai, pejalan kaki memenuhi jalanan, kendaraan roda dua saja sudah kesulitan bergerak apalagi kami yang berada dalam mobil. Laju kendaraan terhenti, memaklumi suka cita sore menjelang waktu berbuka puasa. Dari dalam kami ikut menikmati suasana bahagia itu.

Fajrin kemudian ikut terbawa suasana, "Kita jajan juga yuk?". Godaan menuju akhir waktu berbuka memang sulit. Antara cukup dengan bekal makanan yang sudah kami bawa atau ikut memeriahkan pesta takjil yang meriah di luar batas dinding besi tipis ini. Jika mengikuti naluri otak kedua, sudah pasti kami akan berusaha menepi mencari parkir meskipun peluangnya kecil atau turun dari mobil dan ikut berjalan bersama para pencari takjil lainnya dan membiarkan mobil tetap pada tempatnya. Urusan perut kosong semua cara dapat dilakukan untuk memuaskan rasa itu. Tapi bukankah ujian berpuasa baru dimulai saat ini? Saat Otak kedua mulai mengambil alih keputusan otak utama?

Kami memutuskan untuk tetap duduk dibalik dinding besi ini. Menikmati keseruan jual beli diluar tanpa ikut memeriahkan sesuai kata-kata, senang melihat orang lain bahagia. Rasanya perasaan lapar mata kami sudah terpuaskan. Sadar bahwa bekal makanan yang sudah kami bawa sudah cukup untuk membuat kami bersyukur hari ini, tak perlu melebihkan.

Menurut kami berpuasa esensinya bukan menahan lapar atau memundurkan jam makan, namun menghapus satu waktu makan. Menghapus waktu makan siang lebih tepatnya. Jika berpikir seperti itu maka waktu berbuka puasa akan sama saja dengan waktu makan malam, tak kurang tak lebih. Bisa dilihat bagaimana kebalikannya, semua akan berlomba menambah jumlah porsi makan dalam waktu berbuka. Dari sisi medis tentu perilaku seperti itu berbahaya bagi tubuh yang telah beristirahat selama belasan jam ibarat membangunkan orang untuk langsung berlari cepat jarak dekat.

Lalu kemana perginya satu waktu makan yang hilang tadi? Cukup ikhlaskan berbagi porsi makan pada orang yang lebih membutuhkan. Dua kali waktu makan selama satu bulan merupakan ikhtiar berempati pada saudara kita yang lain yang sudah sebelas bulan memiliki dua bahkan satu kali waktu makan. Bulan ini biarlah mereka yang merasakan memiliki dua atau tiga waktu makan. Cukup bagi diriku, cukup bagi mereka yang membutuhkan.

You May Also Like