Pagi sudah geser-geser meja kerja di ruang kantoran, semacam usaha menemukan command position ceritanya. Di posisi yang bagaimana ruangan bisa terasa secara keseluruhan dan bisa merasakan yang masuk ke dalam ruangan. Ini soal penguasaan dan pengendalian, we can't control what we can't feel.
Geser matahari ke arah atas, geser pula lokasi kegiatan ke bukit seberang. Bertemu dengan kelas sebelas yang sedang berbincang dengan rekanan, bahasannya soal kolaborasi. Bagaimana menemukan satu titik setuju soal tujuan yang sama dan garis sepakat soal pembagian tindakan yang saling mendukung.
Bagaimana? Gak tau eh, soalnya gak nyimak. Karena kedatangan kelas dua belas mengalihkan perhatian dari kelas sebelas. Bukan soal kegiatannya yang membuat tertarik, justru soal apa yang ada di atas meja mereka. Minuman dan makanannya menggoda, jadi ingat kalau saya merasa lapar dari tadi.
Lepas perhatian dari ruang-ruang abstrak di dalam ruang konkrit ini, saya pun menciptakan ruang di bawah pohon rambutan di luar ruangan. Bersama seorang siswa soal proyek besarnya yang dikerjakan mandiri, hingga tengah hari semuanya berhenti. Selesai? Belum.
Lanjut lagi buka ruang koordinasi. Dari aktivitas masing-masing ruang barusan, apa yang didapatkan, apa yang terbuka, apa yang akan dilanjutkan ke depan, dan apa yang akan ditinggalkan di belakang. Ruang-ruang, beterbangan sekaligus bertenggeran di dalam ruang, di luar ruang, di samping ruang.
Bisa jadi, semua pergerakan diri ini dari satu ruang ke ruang lain bahkan menciptakan ruang adalah upaya untuk menemukan posisi kendali. Titik diam dimana interaksi dengan memasuki suatu ruang tidak lagi perlu terjadi, karena diri sendiri sudah menjadi ruang yang didatangi.