Hari ini saya ikut hadir - mendampingi kegiatan pembekalan Smipa Disada untuk guru-guru Sekolah Linimasa dari Kuningan yang akan berproses intensif selama 3 hari di Bandung. Oh iya sebelumnya saya perlu menceritakan bahwa ini adalah tulisan saya yang tertunda - setelah dua hari lalu saya melewatkan rutin saya menulis AES. Jadi rencananya, hari ini saya akan menulis 3 esai. Kebetulan hari ini saya juga ada di tempat yang sangat asik buat menulis. Jadi begitulah rencananya.
Setiba di lokasi setelah persiapan-persiapan dilakukan, saya cari tempat yang enak untuk waktu hening. Sehari-hari, waktu hening saya di rumah banyak sekali suara latar yang simpang siur di sekitar saya, terutama motor yang lalu lalang...
Sebentar mencari-cari, saya menemukan satu tempat yang asik, di bawah sebatang pohon pinus ada batu cukup besar di mana kita bisa duduk di atasnya. Saya menempatkan alas duduk di atasnya. Duduk bersila dan mulai waktu hening saya.
...
...
...
...
...
...
...
...
...
Duh luar biasa apa yang saya rasakan. Suasana hening, matahari pagi yang hangat menyentuh permukaan wajah dengan lembut, udara yang keluar masuk tubuh terasa sangat segar. Sampe sini saya bingung mau cerita apa lagi. Tapi intinya suasana dan tempat kita melakukan waktu hening memang pengaruh banget ya proses meditatif yang kita jalani.
Walaupun orientasi kita ke dalam, memang suasana luar juga berpengaruh. Dua hal ini memang saling melengkapi ya. Kita mungkin paham kenapa ada orang-orang yang melakukan meditasi di gunung, di hutan, di tepi sungai dan lainnya. Hidup kita memang sangat terkoneksi - antara sisi luar dan sisi dalam diri kita. Waktu hening sebagai praktik meditatif memang pada dasarnya melatih kita untuk mengorientasikan diri ke sisi dalam hidup kita. Demikianlah cerita saya dari waktu hening pagi ini. Salam.