AES 168 Perjalanan
joefelus
Sunday November 7 2021, 9:51 AM
AES 168 Perjalanan

Saya tiba di pelabuhan walau tidak merasa siap tapi memang saya harus pergi, tidak ada pilihan. Perjalanan sudah dijdwalkan oleh tuan yang memperkerjakan saya, meskipun saya baru diberitahu di akhir-akhir menjelang perjalanan itu.

Saya harus meninggalkan dia. Dia sangat bersedih karena harus saya tinggalkan secara mendadak, dia tidak siap seperti juga hal nya saya.

Perjalanan ini menuju terang. Menurut tuan saya, ini adalah perjalanan yang akan luar biasa karena di akhir perjalanan akan menunggu sesuatu yang tidak akan pernah dapat dibayangkan.

"What does my destination look like?" tanya saya.

"You'll find out yourself, I won't tell you." Kata tuan saya.

"Why me? why not somebody else?" Tanya saya karena masih enggan untuk meninggalkan keluarga saya.

"Because it is your turn," Jawabnya pula.

Sementara itu dia, seorang anak kecil yang menyertai saya ke pelabuhan mulai menangis dengan sangat sedih, mendekap kaki saya dan tidak mau melepaskannya.

"Saya ikut." Katanya memelas.

"Nak, tiketnya hanya satu, kamu harus menunggu giliran." Jawab saya dengan berat hati. Ini memang hanya perjalanan saya seorang diri.

"Kapan saya akan bertemu lagi?" tanya anak itu masih tetap mendekap kaki saya erat-erat.

"Ketika waktunya tiba." Tiba tiba tuan saya sudah berdiri di dekat kami. Sambil tersenyum tuan menjawab dan berlutut di samping anak itu.

"Kamu masih harus belajar, mempersiapkan diri sebelum giliranmu tiba." jelasnya sambil kembali tersenyum dan membantu melepaskan tangan-tangannya yang mungil dari kaki saya.

"Bersabarlah, nak. Belum saatnya kamu berpergian. Suatu waktu nanti ketika kamu siap kamu juga akan pergi dan saya berjanji akan menunggu kamu di sana." Kata saya.

"Janji?" timpalnya ragu-ragu, antara percaya akan janji saya dan tidak.

"Tentu saja kamu akan berjumpa lagi. Saat ini semua tempat duduk di kapal itu sudah terisi. Ada saatnya nanti tempat duduk khusus untuk kamu tersedia dan tidak ada seorang pun yang dapat menggambilnya dari pada mu" Tuan saya ikut menengahi.

"Dan kami akan bersama-sama lagi?" tanya anak itu.

"Pasti. Saya berjanji." kata tuan.

Kapal memmbuyinya tanda waktu akan berangkat. Terdengar keras sekali. Para petugas mulai terlihat sangat sibuk. Orang-orang mulai mengucapkan selamat berpisah, berpelukan, bertangis-tangisan dan sebagian hanya melambaikan tangan kepada mereka yang sudah berada di atas kapal.

"Do I really have to go?" tanya saya ragu-ragu.

"Absolutely." Jawab tuan.

"Will I see you again?" tanya saya dengan bodoh.

"You'll find me at the destination." Jawabnya meyakinkan saya.

"Then I am going now." Kata saya menyerah.

Saya mulai berjalan kaki menuju tangga yang panjang menanjak menuju dek kapal. Sesekali menoleh dan dengan berat hati melambaikan tangan saya pada anak kecil itu yang masih terus mencucurkan air matanya.

"Saya akan segera menyusul." Bisiknya

Saya hanya bisa mengangguk. Semua ada waktunya. Setiap orang memiliki gilirannya. Masih banyak waktu tersisa untuknya karena antrian di depan penjualan tiket sangat panjang, dan anak itu masih harus berjalan jauh hingga tiba di antrian yang paling belakang. Tuan saya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.

"You'll find me at the destination." Katanya lagi.

"Have a wonderful journey." Tuan berkata untuk terakhir kalinya, lalu dia berbalik sambil menuntun anak kecil itu berjalan menjauh hingga tidak terlihat lagi. Saya terus melangkah meniti anak tangga, seorang petugas meminta tiket saya lalu menunjukkan dimana saya nanti akan duduk. Perjalananpun akan segera dimulai. Menuju cahaya!***

You May Also Like