Tanggal 1 Nopember. Biasanya ini hari pertama dimana semua pusat-pusat perbelanjaan termasuk supermarket di Amerika mulai memajang maupun menjual hiasan-hiasan Natal serta semua kebutuhan untuk merayakan Thanksgiving yang sebetulnya masih beberapa minggu lagi. Tanggal 1 Nopember juga menandakan berakhirnya pernik-pernik yang berbau Halloween, kecuali supermarket yang langsung mengobral semua jenis permen yang tidak terjual karena acara kegemaran anak-anak (dan dewasa) trick or treat sudah usai pada tanggal 31 Oktober.
Saya setidak-tidaknya mengalami belasan kali keseruan Halloween bahkan di beberapa tahun saya ikut membagi-bagikan permen di depan rumah menyambut anak-anak kecil yang berkostum lucu-lucu. Saya sendiri tahun lalu memakai kostum sebagai salah satu kapten Startrek lengkap dengan jaket kulit resmi Startrek yang saya beli dari hasil menabung sekian lama. Kano tahun lalu memakai kaos bumbu dapur, entah apa, saya lupa. Tempat kerjanya memang seru. Tadi pagi ketika saya membuka mata, langsung ada foto dari sahabat saya yang mengirimkan Kano dengan kostum yang berpura-pura sebagai teman kerja saya, lengkap dengan seragamnya, name tag, topi dan cara dia berbicara! Hahaha.. Kano memang sangat trampil meniru aksen bicara orang lain. Dia bisa meniru orang Rusia, orang India, bahkan dialek orang selatan, gaya bicara para cowboy, dan lain-lain.
Halloween selalu penuh dengan cerita seram. Seputar kampus di CSU, banyak bangunan kuno karena kampus ini sudah didirikan sejak tahun 1870-an. Sudah lebih dari 150 tahun. Nah banyak bangunan di sana yang dipercaya berhantu. Salah satunya gedung kuno yang sekarang digunakan sebagai admission office, dulunya gedung ini menjadi gedung rekreasi untuk para mahasiswi, ada kolam renangnya hingga akhirnya dikeringkan karena ada korban tenggelam. Konon karyawan di sana hingga kini masih sering melihat serangkaian tapak kaki basah, seperti ada orang yang barusan keluar dari kolam renang.
Saya sendiri mengalami peristiwa unik. Saya pernah bekerja di bagian fasilitas yang salah satu tugas saya mengumpulkan sampah. Ya! Saya juga kaum duafa! hahahaha.. Nah, suatu pagi saya mengumpulkan sampah dari lantai 3 hingga lantai dasar. Masing-masing lantai memiliki 2 sayap, jadi biasa saya mulai dari sayap timur lalu kantong sampah saya taruh ditengah, di dekat anak tangga turun lalu melanjutkan ke sayap Barat, dan kembali ke tengah ke anak tangga. Tiba di sana sampah dari sayap Timur sudah lenyap. Sambil kebingungan saya turun ke lantai dua. Kantong sampah yang hilang tadi sudah berada di situ. Saya bingung, sebab saat itu di gedung itu tidak ada orang lain kecuali saya, para mahasiswa sedang liburan musim panas. Saya taruh kantong sampah yang saya pegang disamping kantong yang hilang tadi lalu ke bagian timur. Ketika kembali 2 kantong itu kembali hilang. Saya keliling gedung mencari siapa yang mengganggu saya, siapa tahu ada rekan kerja yang jahil. Tidak ada! Hanya saya sendirian di gedung itu. Sambil bekerja saya berbisik-bisik, "tolong jangan ganggu saya, kalau bantu sih boleh!" Hahaha... saya ke sayap barat lantai 2 mengambil sampah lalu turun ke lantai satu, disana sampah yang hilang sudah menunggu lagi. Setelah saya tambah dari barat, sekarang ada 4 kantong di sana lalu saya mulai ke timur, ketika kembali 4 kantong sampah itu menghilang lagi. Saya abaikan dan mengambil kantong terakhir di Barat. Lalu saya ke dumpster dengan 2 kantong sampah, berharap 4 kantong yang hilang itu muncul di sana. Tidak ada bekasnya. Hingga sekarang misteri hilangnya 4 kantong sampah itu belum terpecahkan. Ada hantu yang suka membantu saya!
Tetangga saya di Pasir Impun punya pengalaman yang mengerikan. Ini juga kisah nyata, bahkan ada saksinya, yaitu teman saya mantan pembantu rektor di Unpar. Rumah tetangga saya ini selalu diganggu. Suatu waktu sofa dari ruang tengah ada di atas tempat tidur, padahal butuh setidak-tidaknya 2 orang untuk memindahkan, dan herannya kamar itu masih dalam keadaan terkunci! Suatu waktu gordijn terbakar padahal saat itu tidak ada orang. Rumah dilempari batu besar padahal benteng sangat tinggi. Kemudian dinding di dalam rumah penuh tulisan yang sifatnya "mengusir" atau menyuruh pindah. Akhirnya teman saya ini minta tolong pemuka agama untuk mendoakan. Seorang ustad ditemani aparat RT, RW setempat. Padahal teman saya ini katolik. Nah ketika sedang mengadakan doa, ustad itu dilempar kaleng biskuit Regal. Kaleng itu terbang begitu saja menghantam Pak ustad. Tidak berhasil, teman saya memohon ustad lain tapi beliau tidak berani. Seingat saya, sesuai cerita teman saya ini, rekan yang lain yang mantan pembantu rektor pernah dilempar pisau. Banyak lagi kekisruhan-kekisruhan yang dilakukan oleh "poltergeist" ini yang kalau saya ceritakan bisa jadi berlembar-lembar karena ganguan ini terjadi dalam kurun waktu yang sangat lama. Sepertinya ada yang menginginkan rumah itu.
Sebetulnya hal-hal aneh semacam ini tidak terlalu saya percayai. Tapi karena mengalami sendiri dan juga dialami oleh teman-teman saya yang boleh dibilang terpelajar dan sangat taat beragama, mau tidak mau saya akhirnya mengakui bahwa memang ada keunikan di semesta ini.
Untuk yang seru-seru, Kano, Nina dan saya senang menyusuri gedung-gedung yang konon berhantu. Kami bahkan membeli sebuah buku dan mendatangi satu-persatu tempat-tempat yang unik itu, hanya sebagai seru-seruan saja. Jika melakukan perjalanan darat dan mengemudi sendiri kami senang mengunjungi Ghost Town, nah ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan mahluk halus, tapi lebih ke puing-puing kota yang sudah ditinggalkan penduduknya. Ini sangat banyak di Amerika, biasanya kota-kota kecil yang dulunya didirikan sebagai tempat tinggal penambang, seperti di California dulu ada gold rush, dimana para penduduk Amerika berbondong-bondong melakukan migrasi ke California untuk mencari peruntungan yang lebih baik dan bekerja di tambang emas. Baru sesudah emasnya habis, kota-kota itu ditinggalkan dan berubah menjadi Ghost town.
Di New Orleans, kami bertiga mengunjungi museum Voodoo. Nah ini juga sangat unik karena voodoo juga merupakan praktik ritual spiritual yang berbasis agama tapi yang berbau mistis yang dibawa oleh para imigran dari Afrika Barat, terutama Haiti. Museum itu sebenarnya hanya rumah biasa yang isinya sebetulnya agak "ngawur' karena tidak murni voodoo, bahkan banyak berita-berita aneh serta foto-foto kuno yang sering kali saya anggap tidak berhubungan. Saya memang terhibur di sana, bahkan daripada voodoo, saya merasa masuk ke koleksi benda-benda yang bisa dijadikan bahan episode acara TV belive it or not. hahahaha.. Eniwei, itu semua hanya untuk seru-seruan, bukan membuat saya ketakutan karena saya benci hal-hal yang berbau horor, film yang menakutkan pun tidak saya sukai. Hahahaha.
Foto credit: psychologicalscience.org