AES 232 Phew!
joefelus
Monday January 10 2022, 3:14 AM
AES 232 Phew!

Ternyata false alarm! Sore tadi saya menerima hasil covid test dan negatif. Jadi saya akan mulai bisa mulai bersosialisasi lagi sesudah sekian hari mengurung diri di rumah. Satu keuntungan yang saya rasakan adalah hari Jumat kemarin saya bisa bolos kerja, jadi liburan saya total sejak tanggal 18 Desember 2021 dan baru masuk lagi tanggal 10 Januari 2022, jadi kalau dihitung dengan hari Sabtu dan Minggu totalnya lebih dari 3 minggu! Asyik sih, tapi itu akan segera berakhir, besok hari terakhir libur.

Ya, situasi pandemi memang sangat membuat semua orang selalu was-was. Saya selalu berkata kepada semua orang baik di tempat kerja maupun kenalan-kenalan saya,"We cannot be too careful with this Covid thing." Terdengar memang terlalu paranoid, tetapi jika itu bisa menjaga keselamatan, kenapa tidak?

Boss saya kemarin malah bilang, "Jo, we do not want you on campus until you get your clearance!" Saya sangat mengerti, tidak semua orang divaksin karena banyak alasan pribadi, jadi memang jika sedikit saja ada gejala penyakit, tempat kerja saya menganjurkan untuk tidak usah masuk kerja. Sakit tenggorokan? silahkan tingga di rumah. Batuk-batuk, silahkan telepon supervisor dan jangan masuk kerja. Tidak ada salahnya kita super hati-hati selama keselamatan dan kenyamanan bekerja dapat terus dijaga. Hari Kamis malam kemarin ketika saya mendapat notifikasi bahwa saya ada kemungkinan terpapar orang yang positif, saya langsung minta nasihat boss saya apakah harus kerja dari rumah atau bolos. Boss saya bilang terserah, bisa pilih salah satu. Karena saya masih punya jatah sakit ratusan jam, dan hari Jumat kemarin hanya ada departemen meeting (yang ternyata hanya rekaman pidato dan sebagainya) maka saya memutuskan bolos. Anehnya sudah bolos, boss malah berterima kasih bahwa saya memberitahukan kondisi saya kepadanya. "I appreciate you doing that. I do not want to have to go to work and worry whether we are all infected with the vid." Itu kata-katanya persis saya kutip. Yang saya lakukan adalah sebagai bentuk courtesy, yang menunjukkan bahwa saya peduli akan keselamatan orang lain. Saya juga sebetulnya harus membantu acara seorang teman pada hari Sabtu dan saya batalkan, tentu saja dengan menjelaskan alasannya.

Mengapa saya melakukan itu? Sebab saya juga merasa terganggu jika ada orang yang batuk-batuk masuk kantor dan berbagi udara yang ber-AC di ruangan yang sama! Apakah batuknya karena alergi? flu? atau Covid? tidak ada yang tahu karena kami tidak punya pengetahuan medis seperti dokter. Yang kami rasakan adalah sebuah ancaman. Saya merasa terancam karena jika saya benar-benar terpapar, maka saya juga membahayakan keluarga di rumah! Itu alasan saya secara jujur terbuka mengungkapkan kondisi saya kepada boss di tempat kerja.

Pandemi memang mengubah segala sesuatu, tapi kita semua beradaptasi. Memang banyak orang yang mengabaikan itu dengan berusaha berdalih soal hak kebebasan dan sebagainya. Mungkin mereka-mereka itu baru akan sadar ketika dihadapkan pada situasi yang kritis. Banyak contohnya seperti seorang penyiar yang berusaha mempropagandakan anti masker dan akhirnya dia meninggal dunia karena Covid, praktisi politik, anggota parlemen dan sebagainya yang juga akhirnya harus dimakamkan. Anehnya orang-orang masih belum mau belajar dari pengalaman orang-orang yang sudah menelan pil pahit itu. Ya seperti saya sering ungkapkan di esai-esai saya terdahulu, "There is cure for stupidity!" dan mendebat mereka juga sama saja dengan berbicara pada tembok. Itu fakta yang harus diterima. Yang harus kita lakukan adalah di skala kecil dengan lingkungan sekitar kita. Bayangkan jika semua orang melakukan itu dalam sekala kecil, tentu hasil akhirnya akan luar biasa.***