"What do you have in mind at the moment?" Tanya saya pada diri sendiri. Saya baru saja pulang. Tadi sore ketika tiba di rumah dari pekerjaan langsung berkemas-kemas karena Kano akan ada pesta ulang tahun dengan teman-temannya waktu di middle school, sedikit di luar kota, sekitar 30 menit perjalanan.
Karena acara tidak lama, mungkin sekitar 1 hingga 2 jam, Nina dan saya memutuskan untuk mencari makan malam di tempat yang berdekatan. Daripada pulang dan sebentar kemudian harus kembali lagi, lebih baik menghabiskan waktu sambil makan malam. Kebetulan ada sebuah retoran Thailand yang ingin saya coba. Menurut review yang saya lihat, lumayan bagus, 4.8 dari skala 5. Jadi memang patut dicoba.
Menu yang kami pilih adalah menu standar saja. Pad Thai, Nasi goreng da salah satu Thai Curry yang mereka tawarkan. Banyak tempat yang menawarkan pad thai, dan saya punya standar yang tinggi. Jika restoran Tahiland tidak bisa membuat pad thai yang enak, langsung saya coret dari daftar tempat makan. Ada yang seperti itu di dekat rumah, langsung saya beri review yang memadai dan tidak pernah kembali lagi ke situ.
Pad Thai lulus! Itu penilaian saya. Menurut saya restoran ini mampu menyajikan makanan menggunakan udang yang sempurna. Kalau terlalu matang, udang akan jadi keras dan kehilangan tekstur yang baik, dan chef-nya menurut saya cukup handal. Nasi goreng biasa saja, bukan yang terbaik yang pernah saya rasakan. Yang menarik adalah kari yang mereka sajikan. Ini lebih mendekati green curry, tapi isinya ada potongan cabe paprika, ayam, udang dan ini yang menarik: potongan alpukat! Enak sekali, walau menurut saya gulanya harus sedikit dikurangi dan garam ditambah. Di akhir makan malam, saya pesan mangga dan ketan. Lumayan, juga bukan yang terbaik tapi saya cukup dapat menikmati walau ketannya masih kurang sempurna. Saya juga curiga bahwa ketannya dipanaskan dengan menggunakan microwave, nah ini sangat disayangkan jika benar begitu. Saya merasa ada kerak kering karena proses memanaskannya kurang merata dan kehilangan kelembabannya.
Begitulah kegiatan saya sore hingga petang tadi. Selesai makan, Kano juga hampir selesai sehingga langsung kami jemput dan pulang. Lalu sesudah itu saya akan menulis esai.
Ada semacam konflik dalam diri saya yaitu bahwa saya tidak rela untuk jeda dan membuat rantai proses penulisan saya terputus, dan di sisi lain saya juga sedang sangat lelah-lelahnya sepulang bekerja. Dalam kondisi lelah saya tidak mampu memikirkan sebuah topik yang bermutu. Akhir-akhir ini tulisan saya hanya sekedar bercerita tentang apa yang saya alami baik dalam keseharian, relasi saya dengan keluarga atau peristiwa yang sudah saya alami. Sangat dangkal dan saya merasa seolah-olah hanya sekedar menulis agar tidak terputus. Ini membuat saya kecewa dan merasa tidak puas. Ini tulisan saya yang ke 445, dan tidak ada isinya sebab saya memang sangat lelah.
Kelelahan yang saya alami akhir-akhir ini karena program baru yang mulai digunakan di tempat kerja banyak sekali kelemahannya. Ketika menggunakan program yang lama, saya dapat men-generate data hanya dalam hitungan menit, sekarang saya harus mengerjakannya secara manual. Bayangkan yang biasanya bisa saya selesaikan tidak lebih dari 1 jam seluruh data yang diproses untuk 1 minggu, sekarang saya butuh minimal 8 jam! Lebih parah lagi, biaya untuk menggunakan program ini jauh lebih besar! Minimal setiap tahun kami harus membayar setidak-tidaknya $10 ribu lebih mahal! Mengecewakan!
Saya sekarang sedang mencoba berbagai cara untuk menanggulangi masalah ini dengan berusaha menciptakan beberapa template sehingga bisa saya gunakan sebagai jalan pintas yang bisa mem-by pass beberapa langkah di awal yang tujuannya untuk menghemat banyak waktu dan tenaga. Sejauh ini lumayan berhasil, saya hanya perlu membiasakan diri. Mudah-mudahan jika sudah biasa saya bisa lebih efisien dan ketika tiba di rumah tidak terlalu lelah.
Kembali ke pemikiran tentang menulis. Saya mulai berpikir untuk jeda walau terus terang jika saya ingin jujur, saya sama sekali tidak ingin beristirahat. Saya punya beberapa pengalaman, istirahat membuat membuat saya kehilangan momentum dan untuk kembali ke konsistensi semula akan butuh waktu dan usaha. Itu saya alami di grup membaca. Saya jeda sebentar karena pekerjaan, dan akhirnya saya mati suri. Juga hal serupa terjadi di kegiatan saya berolahraga. Sejak operasi hingga sekarang sesudah menginjak minggu ke 7, saya belum berolahraga secara konsisten. Hasilnya kebugaran saya menurun dan saya mulai kembali seperti sebelum memulai olahraga. Usaha saya yang sudah berjalan lebih dari 9 bulan ini menjadi kembali ke titik awal, kembali ke nol. Saya sangat kecewa! Nah ini berusaha saya hindari dalam hal menulis. Konsistensi memang harus selalu dipertahankan. Selama motivasi masih ada, kenapa harus berhenti? Jika memang mutu tulisannya kurang baik, ya biarkan saja, paling juga tidak menarik untuk dibaca. Itu pemikiran saya lainnya. Saat ini, saya masih berusaha untuk terus minimal hingga tulisan saya yang ke-500. Saya akan lihat, jika memang tidak ada perubahan, mungkin perlu dipikirkan juga untuk rehat dan mulai berpikir lebih serius dalam merancang segala bentuk usaha dan topik tulisan saya. Begitu!