Jadi ceritanya kemarin aku akhirnya mencoba sesuatu yang orang-orang bilang seru: hiking. Lokasinya di Jayagiri, sebuah tempat yang katanya cocok buat pemula. Tapi yah namanya juga pemula, aku ke sana bener-bener kayak turis baru yang nggak tahu medan, nggak tahu apa yang harus dipersiapkan, bahkan nggak tahu cara gaya biar keliatan kayak anak gunung yang berpengalaman.
Bersama teman-teman, kita mulai perjalanan yang... menanjak. Ini aku garis bawahi, karena kalau dibilang “cukup menanjak” itu seolah-olah meremehkan tingkat kecuraman jalannya. Bagi aku, ini lebih seperti ujian hidup. Setiap langkah berasa kayak naik tangga ke surga, tapi surga yang jauh banget. Lutut mulai protes, napas makin berat, dan aku mulai bertanya-tanya kenapa nggak memilih aktivitas yang lebih santai, kayak nongkrong di kafe.
Selama perjalanan, sebenarnya nggak ada yang terlalu menarik. Cuma pepohonan, tanah licin, dan suara langkah kita yang kadang diselingi oleh suara napas berat. Aku sempat mikir, “Apa enaknya hiking, sih?” Sampai akhirnya kejadian lucu ini terjadi.
Di tengah jalan, kita ketemu rombongan lain dan dari mereka adalah bule. Iya orang asing yang entah gimana caranya kepikiran buat hiking di tempat ini. Dalam hati aku, “Ini bule serius apa nyasar? Siapa coba yang dengan sukarela mau susah-susah kayak gini?” aku penasaran dan iseng nyapa duluan. “Halo!” kata aku sambil senyum sok ramah.
Salah satu dari mereka, bule pria yang kayaknya paling gampang diajak ngomong nyaut, “Permisi yah.”
Detik itu juga, aku kaget. Permisi yah? Ini berasa kayak skrip drama kolonial, di mana penjajah mencoba ngobrol santai sama pribumi. Teman-teman aku langsung shock kecil.
Aku yang nggak mau kalah, celetuk balik sambil setengah bercanda, “Be careful, Sir!” atau kalau diterjemahin "Hati-hati, Tuan.” Dan yang bikin makin lucu, dia langsung balas “Iya, licin yah.” Dengan logat bule yang terdengar kaku tapi lucu, aku dan teman-teman nggak bisa nahan ketawa.
Setelah ketawa bareng sejenak, kita pisah jalan. Aku dan teman-teman melanjutkan perjalanan dengan energi baru, karena percakapan singkat itu cukup buat mencairkan suasana. Jalan yang tadinya melelahkan jadi terasa lebih ringan karena kami sibuk ngebahas betapa absurdnya momen itu.