AES 588 My Last Day Of 2022
joefelus
Sunday January 1 2023, 1:35 PM
AES 588 My Last Day Of 2022

Hari terakhir di tahun 2022 sudah penuh dengan rencana. Sejak jaman kecil orang tua saya mengajarkan bahwa diakhir tahun harus bersih-bersih. Jaman itu saya selalu jengkel karena biasanya di akhir tahun orang-orang justru bersiap-siap untuk pesta merayakan kedatangan tahun yang baru. j\Jaman saya kecil sejak sore atau malam hari ngumpul dengan teman-teman di gereja untuk acara semalam suntuk. Kopi, kacang dan kuaci seringkali menjadi menu utama. Entah mengapa, padahal kalau dipikir-pikir yang namanya kuaci itu sangat sarat dengan sodium, lalu tengah malam biasanya bibir sudah perih-perih dan jeding, lidah juga jadi agak baal karena terlalu banyak garam. Kalau lihat acara vigil ketika ada yang meninggal, disamping kue-kue selalu ada kacang, kuaci dan kopi. Betul khan?

Eniwei, orang tua saya selalu mengajarkan di hari terakhir harus bersih-bersih. Dulu saya tidak mengerti, tapi sekarang saya sadar bahwa semua itu mempunyai arti simbolis. Kita diingatkan untuk membersihkan segala sesuatu yang kotor, yang jelek dan tidak baik lalu menyiapkan diri di awal tahun dengan diri yang bersih. Ini sebuah simbol yang mempunyai arti yang dalam, semacam bentuk refleksi tapi secara fisik. Meninggalkan keburukan, menghapus semua kesalahan, membersihkan kejelekan dan memulai lebaran baru yang baik dan bersih. Hebat dan dalam bukan? Sesudah mengerti itu semua, saya menjadikan itu semacam tradisi akhir tahun dan selalu saya lakukan, kecuali jika saya berada di tempat lain, seperti misalnya tahun lalu saya sedang berlibur.

Disamping bersih-bersih yang sudah mulai saya lakukan 2 hari sebelumnya, saya juga mulai melihat kembali apa yang sudah saya lakukan selama tahun 2022. Satu hal yang saya sangat syukuri adalah saya menulis esai setiap hari. Saya mulai membaca dari hari pertama tahun 2022 dan memilih sekian banyak dari 365 esai yang sudah saya tulis. Wah, ini bukan main. Bayangkan saya bisa hadir kembali dalam suasana pemikiran yang saya lakukan pada saat itu! Tidak hanya peristiwa, seringkali peristiwa lebih mudah, contohnya saja jika kita punya media sosial, selalu ada memory tentang apa yang terjadi pada hari itu selama bertahun-tahun hingga belasan tahun yang lalu! Itu peristiwa, bayangkan jika yang dihadirkan kembali adalah apa yang saya pikirkan pada hari yang sama tahun lalu? Luar biasa sekali bukan?

Semakin banyak saya membaca esai yang pernah saya tulis, semakin terheran-heran bahwa selama sekian banyak hari yang saya menulis, ternyata banyak hal yang telah saya pikirkan. "Kok bisa ya saya memikirkan hal itu?" Kalau tidak pernah saya tulis, mungkin bahan-bahan pemikiran itu hilang begitu saja, padahal banyak sekali hal penting yang sudah saya pikirkan. Banyak hal yang sudah dipelajari, banyak hal yang sudah secara matang dipertimbangkan. Terus terang, saya merasa tidak ada perubahan yang sangat signifikan dalam cara saya memandang hidup. dari dulu hingga sekarang sepertinya begitu saja. Tapi jika mengamati buah-buah pikiran yang sudah terdokumentasi, sepertinya banyak hal yang sangat dalam yang sudah direfleksikan.

Saya pikir, sepertinya mindfulness atau awareness saya yang masih dipertanyakan. Kok hal-hal yang sudah pernah saya renungkan ternyata terlupakan begitu saja. Lalu apa gunanya memikirkan itu? Kesadaran saya sepertinya kurang terjaga atau fokus saya seringkali buyar. Ibaratnya sama seperti tinggi badan. Maksudnya begini, dari kecil hingga sekarang apakah pernah ada orang yang sungguh-sunggu menyadari bahwa kita tumbuh? Kalau kita mengamati anak sendiri misalnya, jelas kita sadar akan adanya pertumbuhan. Di salah satu dinding rumah di Bandung ada sudut dengan garis-garis yang saya buat lengkap dengan tanggalnya. Garis-garis itu saya buat untuk mengukur tinggi badannya Kano hahaha.. Jika saya perhatikan pertumbuhan Kano saat itu lumayan pesat. Sekarang dia lebih tinggi dari saya dan saya juga akhirnya tahu bahwa tinggi badan saya justru menyusut. Sekarang saya kehilangan 1 inci, dulu 5 feet 11 inches, sekarang saya hanya 5 feet 10 inches. Apakah saya sadar bahwa tubuh saya mengecil? Tidak! awareness tentang itu tidak saya sadari sampai pada saat tertentu saya benar-benar mengukur diri. Mungkin demikian juga dengan pikiran dan kebijaksanaan. Saya merasa sama saja walaupun mungkin, mungkin loh ya, saya tidak stagnan dan tidak pernah sama sebab pengalaman hidup terus bertambah, cara berpikir juga berkembang tapi tidak pernah secara sungguh-sungguh disadari.

Time brings us perspective. Saya pernah menulis itu sebagai bentuk refleksi saya menjelang hari jadi berbulan-bulan yang lalu. Saya mengatakan dengan berjalannya waktu, kita melalui banyak persitiwa, banyak belajar dari kegagalan dan keberhasilan, kita terus mencari dan mencoba, kita berpikir dan berencana. Kita menghadapi banyak rintangan, menyelesaikan banyak permasalahan dan sebagainya. Waktu membentuk kita dan semakin mendekatkan kita pada kebijaksanaan. Walau kita mungkin tidak betul-betul menyadarinya tapi pada akhirnya kita tahu bahwa time brings us perpective.

Besok adalah hari pertama tahun 2023. Banyak hal di tahun itu yang akan saya hadapi, banyak kekhawatiran, banyak ketidakmenentuan dan banyak ketidaktahuan. Tapi berbekal pada pemikiran saya berbulan-bulan yang lalu, saya merasa optimis dan confident. Saya bersyukur sudah pernah memikirkan ini dan saya tulis di bulan April. Dalam esai saya itu, diawali dengan kutipan ini: "Do not worry about tomorrow, for tomorrow will worry about itself. Each day has enough trouble of its own." (Matt 6:34) Kebetulan itu kutipan dari kitab suci. Saya tidak pernah menganggap diri sebagai orang yang religius, tapi kutipan itu menyadarkan saya bahwa saya tidak perlu mengkhawatirkan itu. Pemikiran itu menjadi bekal saya ke depan dan saya bersyukur sudah menulis itu sehingga menjadi bahan refleksi.***

Foto credit: www.remodelista.com

You May Also Like