Saya membaca esai Kak Andy: As I Remember. Membaca lirik lagu yang kak Andy kutip tentang sekolah membuat saya tersentuh, bukan karena mengalami hal yang sama, justru sebaliknya! Well, tidak seluruhnya, saya masih punya pengalaman indah di tahun-tahun awal masa sekolah saya sebelum masuk jenjang SMA.
Beberapa kali saya pernah menyinggung pengalaman saya di SMA, bukan sekolah yang saya sukai sama sekali. Sekolah negeri yang perawatannya tidak maksimal, banyak jendela-jendela yang tidak ada kacanya bahkan sebagian tidak dapat ditutup. Sekolah itu dikelilingi sawah yang guru-gurunya sepertinya sudah kehilangan passion mengajar. Mereka paling suka jika ada salah satu guru yang tidak masuk, maka ketua kelas akan membujuk guru yang mengajar di pelajaran jam berikutnya untuk memberikan tugas, sehingga kami bisa pulang lebih awal. Saya yang dari TK hingga lulus SMP di sekolah Katolik yang terkenal dengan disiplin merasa tersesat dan bingung berada di sekolah yang jauh dari keteraturan ini.
Saya masih rajin ke sekolah di semester pertama di kelas 1 SMA, sesudah itu saya lebih sering berada di tempat lain daripada di dalam kelas. Masa SMA yang bagi kebanyakan orang katanya menjadi masa-masa yang sangat berkesan, bagi saya kosong, tidak meninggalkan kesan apa-apa. Saya lebih banyak belajar sendiri dan secara fisik lebih banyak berada di luar sekolah. Bahkan pesta kelulusan pun saya hanya tinggal beberapa manit, di belakang, bahkan tidak duduk. Kemudian saya menyingkir. Tidak ada yang perlu dirayakan! Lulus SMA adalah kelegaan buat saya karena tidak perlu lagi berhadapan dengan rasa sebal.
Pengalaman serupa saya rasakan juga di bangku kuliah. Saya mengalami beberapa semester di universitas Katolik yang sangat serius dan dosen-dosennya sangat kompeten. Di sini saya kembali merasa benar-benar belajar. Saya termotivasi karena benar-benar merasa kembali ke masa awal sekolah. IPK saya luar biasa karena seperti orang "keranjingan" belajar. Bangun subuh sekitar jam 3 pagi untuk belajar, hampir setiap hari. Sayang kemudian saya pindah ke Universitas negeri, yang uang kuliahnya jauh lebih terjangkau. Untungnya saya begitu aktif di organisasi, sebab kuliah sendiri saya anggap sebagai "joke" karena saya hanya belajar benar-benar dari beberapa orang dosen saja, sementara mayoritas yang lain seharusnya "malu" dipanggil dosen karena kompetensinya menurut saya sangat dipertanyakan! Menyedihkan!
Yang jauh lebih berkesan bagi saya justru 9 tahun pertama masa pendidikan. Mungkin jika ditelusuri kembali, 9 tahun pertama ini yang saya anggap benar-benar belajar. Tahun-tahun awal ini saya merasa belajar sungguh-sungguh, berusaha semaksimal mungkin, bersaing secara akademis di kelas dan memiliki motivasi yang sangat tinggi untuk menjadi pelajar yang baik.
Kalau sekarang saya mengamati pengalaman-pengalaman masa sekolah sepertinya porsi yang terbesar dari yang saya alami adalah membuang-buang waktu. Yang benar-benar saya pelajari adalah berbagai nilai yang membentuk karakter dan kepribadian saya yang justru tidak diperoleh di sekolah! Sekolah lebih berfungi sebagai sebuah "keharusan". Harus memakai segaram, harus mengerjakan tugas, harus datang tepat waktu, tidak boleh terlambat atau bolos, dan sebagainya. Saya tidak merasakan adanya "kesadaran" untuk bersekolah karena saya membutuhkan pendidikan. Lebih tepat mungkin karena saya menuruti perintah. Yang saya ingat ketertarikan saya untuk bersekolah adalah ketika saya memaksa orang tua untuk menyekolahkan saya ke TK. Itu pertama kali dan mungkin yang terakhir kali saya "ingin" sekolah. Sesudah lulus SMP saya tidak punya "keinginan" lagi untuk bersekolah, tapi semata-mata adalah keharusan karena jika tidak lulus SMA atau tidak lulus perguruan tinggi maka saya akan menghadapi kesulitan dalam berkarir. Itu saja!
Sekolah bukan masa-masa yang menyenangkan untuk diingat-ingat. Bagi saya tidak apa-apa masa-masa itu terlupakan. Tidak penting-penting amat. Saya lebih banyak belajar di luar sekolah, nah ini yang perlu selalu diingat. Dari pengalaman-pengalaman pahit itu, ketika saya berkarir sebagai seorang guru, saya jadi punya idealisme tentang bagaimana sekolah yang baik, guru seperti apa yang seharusnya teribat dalam pendidikan. Hmmm... kalau dipikir-pikir ternyata saya belajar juga di sekolah ya... yaitu belajar untuk tidak jadi seperti mereka! Hahahaha.... Sad, but it's true!
foto credit: usnews.com