AES 939 Pagi Yang Aneh
joefelus
Tuesday December 19 2023, 3:36 AM
AES 939 Pagi Yang Aneh

I’m here. I love you. I don’t care if you need to stay up crying all night long, I will stay with you. If you need the medication again, go ahead and take it—I will love you through that, as well. If you don’t need the medication, I will love you, too. There’s nothing you can ever do to lose my love. I will protect you until you die, and after your death I will still protect you. I am stronger than Depression and I am braver than Loneliness and nothing will ever exhaust me.”
― Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love

Saya berjalan dalam kegelapan. Matahari belum tampak, sangat khas di penghujung musim gugur, dimana malam hari atau kegelapan mulai semakin lebih panjang dari terang, dari siang hari. Saya lupa membawa topi, telinga saya mulai terasa tidak nyaman dan sakit karena cuaca dingin dibawah titik nol derajat.

Pikiran saya, seperti biasa ketika berjalan di pagi hari menuju kantor, menerawang ke mana-mana. Saya teringat sebuah kutipan dari novel dan film yang kemudian saya kutip di atas. Ah seandainya saya bisa setegar itu, pikir saya. How can I be braver than loneliness? The thought of being left behind by the person I love the most has scared me more than death itself! Kata saya dalam hati.

Saya menghela napas dalam-dalam. Uap yang dihasilkan menyebar kemana-mana menerjang udara dingin. Kaca mata saya segera berembun karenanya. Saya menggelengkan kepala, berusaha melepaskan segala pikiran dan ketakutan itu. Perasaan yang begitu menghantui saya akhir-akhir ini.

Kadang ketakutan itu menimbulkan kemarahan. Kemarin dalam perjalanan menuju Denver saya sempat menggerutu. Salah satu ungkapan yang tidak terlalu tepat untuk melepaskan kekhawatiran saya. Bodoh sekali!

"There’s nothing you can ever do to lose my love. I will protect you until you die, and after your death I will still protect you."

"Will I?" Kata saya lagi pada diri sendiri dengan tersenyum pahit. Mungkin akan lebih tepat saya meringkuk di sudut kamar sambil mengasihani diri sendiri tanpa berdaya. Saya pernah melihat seseorang melakukan hal seperti itu, berpuluh-puluh tahun yang lalu ketika kakak saya meninggal dunia. Saat itu saya sama sekali tidak mengerti mengapa dia melakukan itu. Sekarang saya tahu, sekarang saya mengerti dan mungkin akan terjebak serta melakukan hal serupa. Orang yang seperti itu membutuhkan simpati dan empati, sebab walau orang lain mengerti apa yang sedang dia alami, tapi sulit dengan tepat dapat merasakan apa yang dia harus hadapi. Saat itu saya hanya kasihan, tidak kurang dan tidak lebih. Sekarang saya lebih mengerti karena hampir mengalami hal serupa.

Ini bukan renungan yang menyenangkan untuk dilakukan di pagi hari. Biasanya saya merenung atau melamunkan sesuatu yang jauh lebih menyenangkan. Entah mengapa pikiran ini terlintas. Novel dan film itu sudah bertahun-tahun yang lalu saya baca dan saya tonton. Kenapa kok nongol hari ini? Aneh!

Jalanan sangat sepi, jauh lebih sepi daripada biasanya. Para mahasiswa sudah meninggalkan kampus dan pulang ke rumah keluarga masing-masing untuk liburan musim dingin. Mereka akan kembali lagi di pertengahan bulan Januari tahun depan. Jadi kurang lebih 1 bulan kota ini akan terlihat jauh lebih lengang. 25% penduduk kota ini pulang kampung! Ya, jumlah total penduduk di kota ini hanya 160 ribu, sekitar 40 ribu pulang ke rumah keluarga masing-masing, belum ditambah mereka yang pergi berlibur mengunjungi sanak saudaranya. Saya tidak mengomel, kota yang sepi lebih menyenangkan. Saya terus berjalan menuju kantor. Kalau mau saya bisa menyebrang seenaknya karena hampir tidak ada kendaraan. Tapi saya tetap menunggu hingga lampu untuk menyeberang menyala.

Tiba di kantor, saya lihat sekotak coklat dan kartu ucapan di atas meja.

"I appreciate you! Have a very merry Christmas."

Kalimat itu tertulis di selembar kartu ucapan berwarna emas yang terletak di atas sebuah kotak lumayan besar berisi coklat. Diantara lipatan kartu itu ada sebuah kartu dengan nilai nominasi tertentu tertera di situ, kartu pra bayar dari sebuah gerai kopi yang biasa saya datangi. Itu saya jumpai di atas meja kerja ketika saya tiba di kantor.

"Ah, she knows me well." Dalam hati. Ada perasaan sejuk dan bersyukur bahwa seorang atasan mengenali bawahannya. Ini sebentuk apresiasi yang sangat berarti.

Sahabat saya mengirimkan sebuah pesan melalui telepon genggam. Saya ceritakan bahwa boss memberikan bingkisan kecil. Saya katakan pula bahwa saya malah menjadi sedih karena saya tahu pada saatnya saya akan memisahkan diri dan membuat banyak orang bersedih. Saya berharap hal itu tidak akan pernah terjadi.

Banyak orang telah berbuat hal yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Membuat mereka kecewa, membuat mereka bersedih bukan hal yang dapat saya banggakan. Saya justru ingin menghindari hal itu sebaik-baiknya. Tapi kadangkala hal yang tidak terhindarkan merupakan pilihan yang harus diambil. Ya, kita tidak bisa menolak takdir. Jika jalan itu harus diambil dan memang telah disediakan untuk kita, sepahit apapun kita harus menyerah. Lagi-lagi perkataan Elizabeth Gilbert dari novel itu cocok sekali.

In the end, though, maybe we must all give up trying to pay back the people in this world who sustain our lives. In the end, maybe it's wiser to surrender before the miraculous scope of human generosity and to just keep saying thank you, forever and sincerely, for as long as we have voices.”
― Elizabeth Gilbert, Eat, Pray, Love: One Woman's Search for Everything

Ini benar-benar pagi yang aneh!