Pagi ini merupakan hari pertamaku merasa berdaya untuk melakukan kontak sosial dengan orang dikenal (aku lebih cakap melakukan kontak sosial dengan orang asing). Meski hari pertama, aku kemudian mendapatkan rangkaian gambar yang sebelumnya masih terurai merupa potong-potongan puzzle. Terima kasih tuhan, atas pagi yang indah ini.
Per pertengahan oktober, kami bertiga "bertempur" demi beradaptasi dengan lingkungan yang sedang berubah-ubah. Kami bertiga dengan gen atopiknya menjadi sangat reaktif saat itu. Kami mengalami gejala yang mirip, seputar saluran napas. Hingga lebih dari 1 minggu masih tampak intens. Bersamaan dengan periode itu, Ibu kami terkena infeksi TB (Tuberkulosis) yang beliau dapat dari Nenek kami yang kemudian berpindah dari alam dunia. Perasaan kalut tentu menjadi program "auto" di badanku. Sedikit cerita aku memiliki riwayat gangguan kecemasan berkaitan trauma akibat penyakit yang menemaniku usai melahirkan anakku 4 tahun yang lalu. Sebab itu akhirnya kami putuskan untuk melakukan pemeriksaan tapisan TB mengingat anakku yang hampir sakit 1x/bulan dimulai bulan agustus 2023 dan riwayat kontak kami dengan Ibu. Hasilnya kami bertiga negatif TB, namun terungkap bahwa alergi kami juga memengaruhi paru-paru dan kulit, sehingga untuk beberapa saat kami melakukan pengobatan untuk menstabilkan kondisi terbaru tersebut. Ternyata lama-kelamaan kami terus membaik dan mendapat kesimpulan bahwa alergi kami banyak dipicu keadaan pancaroba.
Saat aku menjemput anakku, aku mengobrol dengan ayah-ayah dari teman-teman anakku. Tanpa aku minta, seperti kebetulan yang sangat menghangatkan hati. Mereka secara terpisah membicarakan keadaan dan "habit" badan keluarga mereka saat mengalami "atopik". Dan lengkap sudah jawabannya tentang fenomena mereka (anakku dan kawan kawan) yang hampir selalu sakit bersamaan dan bergiliran 1 bulan 1x , ternyata mereka berempat, tidak lain dan bukan adalah para geng atopik :D.
Sebelum aku berangkat ke sekolah anakku. Aku membaca buku untuk terus meregulasi emosiku, bahwa semua akan baik-baik saja dan aku tidak takut lagi untuk berkontak sosial di sekolah anakku. Kemudian ada hal yang menempel begitu saja dari buku itu. Buku itu menyebutkan bahwa segala bentuk kesakitan dan derita dimulai dari perkembangbiakan karma (konsekuensi) yang kita hasilkan dari memori, identitas, dan kemelekatan kita terhadap hal-hal material. Dalam kasusku tadi, aku begitu erat mengidentifikasikan diriku menjadi pemilik kesehatanku, kesehatan anakku, dan suamiku. Juga aku tidak bisa merilis emosi tersebut dengan baik sehingga energinya berbalik, berbenalu di badanku dan melorotkan imun serta kesehatanku, jiwa dan raga. Juga saat itu, aku malah menarik diri, mengisolasi, dan menginaktivasi segala aktivitas fisik sehingga gotong royong semesta semudah seperti tadi, inspirasi dari mengobrol tidak mendapat akses masuk ke dalam hidupku saat itu.
Selain mendapatkan jawaban atas kecemasanku terkait siklus sakit anak dan teman-temannya. Aku pun kembali meng-"Eling"-i, bahwa semua sakit-penyakit ku-kami, dimaksudkan tuhan untuk melepas derita dari kemelekatan material, menghentikan perkembangbiakan karma yang terus diproduksi sendiri, dan tentu saja meng-"Eling"-i tiada "Tuhan" selain Dia, indah.
Terima kasih Gilang sudah berbagi. Kalau mungkin bisa meringankan. sepertinya tulisan yang ini bisa membantu memahami. https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/5486/aes567-teu-pararuguh
Lalu nyambung ke tulisan saya yang ini https://ririungan.semipalar.sch.id/kak-andy/blog/5523/aes575-salah-satu-jawaban 🙏